RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Prihatin Kebakaran Hutan, Kapolres Pasuruan Dan Petinggi TNI Lakukan Sholat Minta Hujan

Saat sholat minta hujan berlangsung



Pasuruan, Pojok Kiri
    Kebakaran yang melanda kawasan gunung Arjuno-Welirang di Prigen yang hingga kini belum juga padam membuat Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan prihatin.
    Atas kondisi ini, Kapolres bersama Dandim 0819, Komandan Yonkav 8 Beji, Para Ulama, Wakil Bupati Pasuruan, dan ribuan santri melaksanakan doa bersama untuk mendatangkan hujan.
     Giat do'a bersama itu diawali dengan melakukan sholat Istisqo' yang digelar di halaman Polres Pasuruan pada Senin sore (14/10) sekira pukul 16. 30 WIB.
     Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan mengatakan, giat do'a bersama dan sholat Istisqo' ini dilakukan untuk meminta hujan kepada Allah agar hujan bisa memadamkan api yang masih membara.
     "Kami bermunajat, semoga do'a kami dikabulkan, "ucap Kapolres.
     Do'a bersama ini rencananya berlanjut hingga malam yang diisi dengan istigotsah bersama. (isb)

Masuk Tahun Ke Tiga, Proyek Kali Kedunglarangan Sudah Capai Progres 40 Persen

Kondisi Sungai Kedunglarangan

Pasuruan, Pojok Kiri
     Progres pelaksanaan proyek normalisasi Sungai Kedunglarangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur hingga Juli 2019 ini sudah tercapai 40 persen. Hal ini sebagaimana dikatakan Hanung Widya Sasangka, Kadis Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air dan Tata Ruang Rabu pagi (10/07) satu jam sebelum ia dilantik sebagai Kadis Binamarga.
     Menurut Hanung, Desember 2019 nanti, seluruh teknis pekerjaan mulai pelebaran, penguatan tanggul hingga pengerukan sedimen sungai sudah selesai 100 persen.
     "Jadwalnya Desember 2019 semua sudah selesai, dan saya yakin dilihat dari sisi teknis pelaksanaan, proyek ini akan dapat diselesaikan tepat waktu, "ucap Hanung.
     Sebagaimana diketahui, proyek normalisasi Sungai Kedunglarangan dengan panjang 7 kilo meter dimulai dari cabang 'sungai bong' (Kalianyar sisi Utara, red) hingga kawasan Utara Telocor saat ini masih terus dikerjakan.
Proyek yang sedang berjalan

     Proyek yang alokasi dananya dari anggaran Kementerian PUPR mencapai Rp 200 miliar sejak tahun 2017 ini dilaksanakan selama 3 tahun.
     Saat ini terang Hanung, proyek sudah masuk tahun akhir atau tahun finishing. Progresnya sudah tercapai 40 persen.
     "Dari progres 40 persen itu saja dampak positifnya sudah dapat kita rasakan. Saat musim hujan, banjir yang menggenang di lingkungan warga sudah terminimalisir. Jika sudah 100 persen, kita akan dapat bayangkan manfaat dari proyek ini, "ujar Hanung.
     Fakta memang itu yang terjadi, pada musim hujan beberapa bulan lalu, banjir yang selama ini menggenang besar di lingkungan Kalianyar, Tambakan, dan daerah sekitarnya sudah terminimalisir dengan adanya proyek multi years ini.
    Firman misalnya, salah satu warga Kalianyar yang selama banjir terpaksa harus melewati kuburan 'Kepo' untuk menuju Bangil, kini sudah tidak lagi.
     "Biasanya kalau banjir, kami selalu lewat tengah kuburan saat mau ke Bangil. Sebab kondisi jalan kuburan 'Kepo' lebih tinggi. Tapi kalau malam serem. Kuburannya angker. Sekarang Alhamdulillah sudah tidak lagi, "ungkapnya. (Lis)

Rencana Penggusuran Bangunan Di Bantaran Kali Mati Dianggap Hoax? #Kades Kedungringin: Pemkab Pasuruan Tak Pernah Sosialisasi Ke Warga Secara Langsung

Kades Kedungringin, Vicky

Pasuruan, Pojok Kiri
     Rencana Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Berantas untuk memanfaatkan kali mati yang melintas di kawasan Desa Kedungboto, Kedungringin, Cangkringmalang, Kecamatan Beji, serta sebagian wilayah di Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan demi meminimalisir dampak banjir saat musim hujan sejak 2018 lalu sudah dikumandangkan.
     Namun tak adanya sosialisasi langsung ke warga, dan hanya memanfaatkan perangkat desa sebagai corongnya membuat situasi di bawah panas dan terkesan perangkat di adu domba dengan warga.
     Kades Kedungringin, Vicky Ariyanto kepada Pojok Kiri, Senin (01/07) mengatakan, saat ini di warga ada yang percaya ada yang tidak.
     "Banyak diantara mereka yang menganggap informasi yang kami sampaikan itu hoax. Sebab selama ini yang turun ke warga hanya kami dalam arti desa yang menugaskan perangkat. Sementara dari pihak Pemkab Pasuruan tidak pernah mengundang warga langsung untuk sosialisi, "ungkap Vicky.
     Vicky mengaku selalu menyampaikan kepada warga untuk siap-siap jika sewaktu-waktu rumahnya digusur. Ia juga sudah menghimbau agar warga tidak membangun rumah di lokasi yang akan dikeruk itu. Namun menurut Vicky, upaya mereka dianggap hoax oleh masyarakat karena pihak Pemkab Pasuruan dan BBWS tidak pernah turun langsung
     "Kami ini berhadapan langsung dengan warga. Saat kami memberi himbauan agar jangan ada yang bagun rumah di lokasi kali mati itu, kami dikira benci dengan mereka, jadi saat ini banyak yang terus bangun rumah, padahal himbauan terus kami lakukan. Kuncinya Pemkab harus turun langsung menyampaikan kepada warga. Undang mereka, lalu sampaikan, "ucap Vicky.
     Dijelaskan Vicky, sejak ada wacana memfungsikan kembali kali mati pada 2018 lalu, dan rencananya akan dilakukan pengerukan pada 2021. Warga sudah banyak yang sadar dan siap-siap untuk mencari lokasi tempat tinggal baru. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tidak adanya langkah Pemkab Pasuruan turun dan mensosialisasikan langsung kepada warga, hal ini akhirnya dianggap sebagai berita bohong alias hoax.
     Lepas dari itu, sebagaimana informasi yang didapat Pojok Kiri sejak 2018 lalu serta ditegaskan oleh Kades Kedungringin Vicky, rencana memfungsikan kembali kali mati ini akan menggusur ratusan bangunan rumah penduduk serta fasilitas umum seperti sekolah, masjid, makam, jalan desa. Jumlah totalnya mencai 500 lebih, dan terbanyak ada di Desa Kedungringin. (Lis)

Agar Tanah Tak Tergerus, BPBD Tutup Plengsangan Di Tugusari Yang Ambrol Dengan Terpal

Plengsengan di Tugusari, Kalianyar yang ditutup terpal

Pasuruan, Pojok Kiri
     Plengsangan Tugusari, Kalianyar yang ambrol Minggu sore (03/02) sekira pukul 16.30 WIB langsung direspon cepat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan.
     Kepada Pojok Kiri, Senin (04/02), Kepala BPBD Bhakti Jati Permana mengaku telah medatangi lokasi kejadian petang harinya, Minggu (03/02) sekira pukul 17. 30 WIB.
     "Kami tim BPBD sore kemarin sudah mendatangi lokasi kajadian, kami langsung melaporkan ke BBWS saat itu juga termasuk melapor ke pimpinan. Lokasi sungai ambrolnya plengsengan ini masuk wewenang BBWS untuk perbaikan permanennya, "terang Bhakti.
     Namun lanjut Bhakti, dari pihak pemerintah daerah, khususnya BPBD sambil menunggu perbaikan plengsengan secara permanen oleh BBWS, untuk sisi daruratnya tetap menjadi kewajibannya untuk menangani.
     Dalam hal ini menurut Bhakti, untuk penutupan secara darurat ada dua teknis yang bisa dilakukan, yakni menutup dengan sak atau ditutup bronjong.
     "Kalau sak kita tinggal tutup bisa, tapi kalau menggunakan bronjong, warga harus merelakan tanahnya sepanjang 5 meter untuk kebutuhan teknisnya, "tukas Bhakti.
     Lepas dari dua teknis darurat penutupan itu, petang kemarin (03/02), untuk mencegah tergerusnya tanah dari terjangan air saat ini, pihak BPBD telah menutup plengsengan yang ambrol itu dengan terpal.
      "Ambrolnya plengsengan ini karena memang posisinya adalah terjangan air. Kuat dugaan karena di bagian bawah terkikis air, "ucap Bhakti.
     Sementara itu, untuk usia plengsengan itu sendiri diketahui masih berumur 2 tahunan. Hal ini seperti dikatakan Bhakti, bahwa plengsengan itu dibangun tahun 2016. (Lis)

Plengsengan Di Tugusari, Kalianyar Ambrol

Plengsengan Di Tugusari, Kalianyar Yang Ambrol

Pasuruan, Pojok Kiri
     Warga Dukuh Tugusari, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, Minggu sore (03/02) sekira pukul 16.30 WIB dibuat terkejut adanya suara bergemuruh dari Sungai Kedunglarangan. Mereka mengira suara itu berasal dari jembatan yang putus. Warga lalu berhamburan untuk melihat ke sungai yang sore itu tidak terjadi banjir.
     Namun warga kecele, saat didekati,  ternyata suara bergemuruh itu bukan berasal dari jembatan putus, akan tetapi berasal dari plengsengan sungai sisi Barat yang ambrol sekitar 20 meter.
     Ambrolnya plengsengan yang sudah berusia tahunan itu juga ikut merobohkan tempat usaha jual es batu milik Mitro (37) warga setempat dan menenggelamkannya ke sungai. Mitro selama ini membuka usaha di pinggir sungai tersebut.
     Beruntung saat itu lapak es batu Mitro sedang sepi. Sehinga saat kejadian tidak membawa korban jiwa.
     Kejadian ambrolnya plengsengan itu tentu saja membuat warga kaget. Sebab saat kejadian, kondisi cuaca sedang tak ada hujan, serta tak ada terjangan air banjir. (Lis)

Marak Pohon Tumbang, Ini Kata Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan

Kepala BPBD, Bhakti Jati Permana

Pasuruan, Pojok Kiri
      Hujan angin menghempas banyak pohon hingga bertumbangan. Resikonya, bagi rumah dan kendaraan yang tertimpa pasti mengalami kerusakan. Sedang jika manusia yang tertimpa, nyawa bisa melayang.
      Kondisi ini sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pohon di wilayah Kabupaten Pasuruan tercatat sudah ambruk karena terjangan angin dan hujan. Lantas bagaimana menghadapi ini?
      Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bhakti Jati Permana kepada Pojok Kiri, Kamis (24/01) mengatakan, terkait kejadian pohon tumbang akibat hujan angin, termasuk dalam tugas BPBD untuk menanganinya, karena ketegori bencana.
      Selama ini terang Bhakti, jika ada kejadian pohon tumbang, timnya langsung turun ke lokasi untuk mengevakuasi pohon tersebut. Jika terjadi di pemukiman, ia mengaku selalu bekerja sama dengan pihak desa atau kelurahan untuk diajak bergotong royong mengevakusi. Jika terjadi di jalan raya, pihaknya akan bekerja sama dengan Satuan Polisi Lalulintas untuk mengurai kemacetan.
Salah satu kejadian pohon tumbang

     "Untuk pekerjaan evakuasinya mutlak adalah tugas kami, dan sudah kami siapkan tim yang siap datang 24 jam untuk menangani itu, "ucap Bhakti.
     Namun Bhakti berharap sebelum terjadi bencana, ada langkah pencegahan bencana. Yang dimaksud Bhakti adalah, sebelum terjadinya kecelakaan karena pohon tumbang, jauh-jauh bulan sebelum musim hujan, ada koordinasi dan kerjasama kuat dengan sejumlah pihak guna merapikan pohon-pohon tersebut.
     Bhakti sendiri mengaku, pada November 2018, saat hujan masih berstatus gerimis yang juga kadang turun kadang tidak, ia sudah menghimbau kepada desa, termasuk menyampaikan ke instansi terkait, untuk merapikan pohon-pohon besar yang berpotensi menimbulkan bencana. Saat itu lanjut Bhakti, ada yang melaksanakan ada yang tidak.
     Alasan klasik adalah aturan. Memang desa yang mau merapikan pohon takut terjerat hukum atau bentuk denda. Persoalan ini kata Bhakti harus dibicarakan bersama mulai dari OPD ditingkat Pemkab, hingga propinsi, termasuk pihak lain seperti PLN dan Telkom.
      "Untuk itu, dalam waktu sesegera mungkin kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Tak bisa dipungkiri, kondisi pepohonan, baik di pemukiman atau di tepi jalan sudah sangat membahayakann perlu dilakukan tindakan pemangkasan, "tukas Bhakti. (Lis)

Pemerintah Perketat Regulasi Pemberian Bantuan Terhadap Petani Pasca Bencana

Areal pertanian di Kalianyar yang terpaksa tak difungsikan saat musim hujan karena selalu terendam banjir

Pasuruan, Pojok Kiri
      Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Pasuruan dalam beberapa bulan terakhir sudah memunculkan akibat, yakni banjir di beberapa tempat.
      Banjir di musim hujan ini dapat dipastikan selalu membawa dampak buruk, yang salah satunya adalah rusaknya areal pertanian.
      Ada catatan sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ikhwan saat berbincang dengan Pojok Kiri, Senin (21/01), dalam hal rusaknya areal pertanian karena bencana ini, pihak petani dinyatakan sebagai korban. Dalam posisi sebagai korban, petani sudah sepatutnya mendapatkan bantuan dari pemerintah semisal bibit atau hal lain yang diperlukan.
     Untuk bantuan yang diberikan ini jelas Ikhwan, diberikan kepada petani yang sudah terlanjur menanam salah satu tumbuhan pertanian, kemudian terjadi bencana yang berakibat hancurnya tanaman tadi atau yang disebut puso (termasuk gagal panen, red) yang menimbulkan kerugian.
     "Nah petani yang seperti ini layak mendapat bantuan, misal mengganti benihnya atau hal lain yang urgen, "ucap Ikhwan.
      Namun berbeda dengan areal pertanian yang memang sudah diketahui saat musim hujan dipastikan tidak bisa ditanami karena selalu menjadi kantong air, seperti wilayah Kedungringin, Beji, Kalianyar dan Tambakan, Bangil, serta sejumlah wilayah lain.
      Untuk yang satu ini terang Ikhwan, para petani biasanya sudah paham, dan tidak akan mengolah lahan pertaniannya karena diyakini akan hancur terkena banjir.
     "Untuk kejadian seperti ini, bukan termasuk yang mendapat bantuan, tetapi harus dipikirkan dari sisi tata ruangnya, yang pas lokasi itu untuk lahan apa. Apakah masih tetap jadi lahan pertanian, atau lahan lain. Tetapi itu tidak mudah, harus melalui pemetaan dan kajian yang menyeluruh, "terang Ikhwan.
     Lepas dari itu, di tahun 2018, termasuk 2019 ini, bagi petani yang lahannya mengalami puso akibat bencana, ternyata tidak gampang untuk mendapatkan bantuan seperti tahun-tahun sebelumnya.
      Menurut Ikhwan, sebelum tahun 2018, untuk petani yang mengalami puso akibat bencana, dalam waktu kurang 1 minggu sudah bisa mendapat bantuan dari pemerintah dalam bentuk bibit pengganti atau bantuan lain.
     Di tahun 2018 dan 2019 ini ada perbedaan. Ikhwan menerangkan, perbedaan itu terletak pada regulasinya. Dimana bagi petani yang areal pertaniannya mengalami puso akibat bencana, untuk mendapatkan bantuan harus melalui proses yang ketat, dimulai dari laporan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) wilayah setempat, lanjut ke Propinsi hingga pusat.
     Setelah laporan itu papar Ikhwan, pihak penangulangan bencana pusat bersama tim Kementerian Pertanian akan melihat langsung melalui peta satelit, titik-titik mana saja yang benar-benar terdampak bencana serta berhak mendapat bantuan. Setelah itu akan diutus tim dari Kementerian Pertanian ke lokasi bencana untuk melakukan verifikasi secara lengkap terkait lokasi pertaniannya, nama petaninya, luasnya dan sebagainya, lalu dimasukkan dalam data usulan bantuan.
     "Setelah dicatat dalam data usulan ini, petani menunggu untuk mendapat bantuan. Tetapi dalam proses ini butuh waktu, karena yang ditangani se Indonesia, "tukas Ikhwan.
     Regulasi yang ketat ini jelas berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dengan mudah bantuan mengucur dalam hitungan minggu.
     Menurut Ikhwan, diberlakukannya regulasi ketat ini pada dasarnya adalah pemerintah lebih berhati-hati dalam melepaskan bantuan yang dananya adalah dari uang negara.
     "Intinya itu untuk kehati-hatian. Jangan sampai dana yang dikucurkan itu salah sasaran, "ujarnya. (Lis)
KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas