RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Permintaan Maaf Plt Direktur RSUD Bangil Sangat Memukau, Keluarga Korban Dan Anggota DPRD 'Terhipnotis'

Agung Basuki Plt Direkrur RSUD Bangil

Pasuruan, Pojok Kiri
     Dalam pertemuan antara manajemen RSUD Bangil dengan keluarga korban Eko BS, pasien yang meninggal dunia akibat dugaan kelalaian RSUD Bangil yang difasilitasi oleh DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (14/10) secara mutlak di permukaan ada "Kemenangan" yang diraih oleh manajemen RSUD Bangil.
    Dalam hal ini, diplomasi dari sang Plt Direktur, Agung Basuki yang menggunakan jurus meminta maaf dan disampaikan berkali-kali dengan kalimat sangat menghibah membuat keluarga korban akhirnya memaafkan.
     Catatan menariknya dalam pertemuan tersebut, sejumlah anggota dewan Komisi 4 yang hadir juga ikut terlena dengan jurus sakti Agung Basuki yang dalam penyampaiannya selain minta maaf juga menyalahkan anak buahnya yang tidak merujuk langsung si pasien.
    "Anak buah saya salah, harusnya sejak awal masuk sudah dirujuk, sebab RSUD Bangil memang tidak mampu mengobati pasien dengan sakit yang diderita, "kata Agung.
     Cerdik dan pandai, kemampuan Agung Basuki berdiplomasi akhirmya mampu megalihkan perhatian, sehingga para anggota komisi 4 yang hadir lebih pada menasehati agar RSUD Bangil ke depannya bisa memberi pelayanan yang lebih baik.
     Demikian juga dengan Wakil Ketua, Andre Wahyudi yang memimpin rapat. Ia bahkan memberi kesempatan agar RSUD Bangil mengajukan anggaran untuk memenuhi kebutuhannya termasuk mengkritik taman yang kurang segar.
     Pembicaraan yang bias kemana-mana tanpa fokus pada persoalan matinya pasien Eko BS ini menunjukkan hebatnya Agung Basuki dalam berdiplomasi. Saking hebatnya, pertemuan yang masih diselimuti duka keluarga korban tersebut masih sempat-sempatnya tercetus canda tawa.
     Melihat wajah istri korban yang dipanggil mbak iin dan saudaranya yang bermimik sedih bahkan sempat menangis kala disampaikan anaknya yang masih kecil selalu mencari ayahnya, tak ada satupun anggota dewan yang melihat ke arah itu, kecuali Joko Cahyono yang juga keluarga korban.
    Kehebatan diplomasi Agung Basuki ini akhirnya berbuah pada saling memaafkan di permukaan.
    Joko Cahyono di sela permintaan maaf Agung hanya meminta dua syarat, yakni manajemen mencabut rilis yang tersebar karena dianggap penuh kebohongan, dan memberi sanksi kepada dokter serta pihak yang ikut terlibat dalam kematian korban tanpa meminta pertanggungjawaban kepada manajemen RSUD Bangil.
     Catatan yang perlu digarisbawahi, dokter Vidya Eka Damayanti dalam hal ini hanya pelaksana, yang paling bertanggungjawab tentu adalah pimpinannya. (Lis)

Kasus Dugaan DokterTerlantarkan Pasien Di RSUD Bangil, Kata Wadir, M. Jundi, Dokter Yang Bersangkutan Mengundurkan Diri

Manajemen RSUD Bangil saat hadiri panggilan dewan

Pasuruan, Pojok Kiri
     Kasus dugaan penerlantaran pasien Leo Kimia bermana Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan oleh dokter RSUD Bangil yang berakibat pada kematian si pasien berbuntut pada pemanggilan manajemen RSUD Bangil oleh Komisi 4 DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (14/10).
     Dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Andre Wahyudi yang dihadiri para pimpinan Komisi 4 dan keluarga pasien, diantaranya Joko Cahyono dan istri korban iin, serta salah satu saudaranya, Komisi 4 lalu mempertemukan mereka dengan manajemen yang dihadiri Plt Direktur, Agung Basuki Wadir, M. Jundi, serta dua staf perempuan.
    Dalam pertemuan itu, tak tampak sosok dokter Vidya Eka Damayanti yang terlibat langsung dalam persoalan ini serta yang dianggap bertanggungjawab kaitannya Poli Penyakit Dalam dimana sang pasien dirawat.
    Dalam pembukaan narasi pembicaraan, Agung Basuki sang Plt Ditektur yang diberi kesempatan berbicara lebih awal oleh pimpinan rapat, Andre Wahyudi langsung menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya.
     Menurut Agung, memang tidak pantas dan melanggar etika ketika ada dokter yang bersikap kasar, baik kepada pasien maupun keluarga pasien.
     "Untuk itu saya selaku pimpinan di RSUD Bangil meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini, "kata Agung.
     Setelahnya, pembicaraan disampaikan oleh Wakil Direktur Pelayanan, M. Jundi.
     Di hadapan para wakil rakyat dan keluarga korban, M. Jundi menyampaikan bahwa untuk dokter Vidya sedianya ingin diajak untuk menghadiri panggilan DPRD ini. Namun menurutnya, dokter Vidya secara lisan sudah menyampaikan risent (pengunduran diri, red).
     "Maunya tadi itu dokter Vidya kami ajak untuk ikut datang ke DPRD ini, akan tetapi saya dapat penyampaian secara lisan bahwa yang bersangkutan risent, "kata M. Jundi.
     Lepas dari itu, dalam pertemuan yang digelar di salah satu ruang rapat kantor DPRD Kabupaten Pasuruan itu, istri korban sempat menceritakan kasus sebenarnya soal penanganan atas suaminya yang dirawat selama 5 hari sejak Kamis, 03 Oktober hingga Senin, 07 Oktober 2019.
    Dalam ceritanya, ia menyampaikan bahwa sejak masuk perawatan di RSUD Bangil, dokter yang bertanggungjawab yakni dokter Vidya tidak berada di tempat, ia baru muncul pada tanggal 07 Oktober dimana sorenya suaminya meninggal dunia.
     "Jadi selama dirawat di RSUD Bangil,  suami saya belum pernah mendapat kunjungan dari dokter Vidya. Yang ada hanyalah para perawat. Ketika memberikan obat juga hanya via WA antara dokter Vidya dan perawat. Dia sama sekali tidak melihat kondisi suami saya, "ungkap iin, istri korban.
     Catatan berikutnya, setelah datang pada 07 Oktober, yang kemudian dokter Vidya ditemui oleh Joko Cahyono salah satu keluarga korban, terjadilah adu mulut karena menurut Joko, dokter Vidya menyampaikan informasi salah dan marah-marah, yang berlanjut pada saling bentak dengan lontaran kalimat bahwa dokter Vidya istri tentara yang menurut M. Jundi itu adalah reflek karena Joko gebrak meja, nuding dan bilang jancok serta bilang ia anggota dewan.
    Namun Joko yang secara gentel hadir dalam pertemuan dengan Komisi 4 DPRD itu menegaskan, sikap kerasnya juga reflek karena dokter Vidya saat ditanya kondisi pasien justru marah-marah.
     Dalam hal ini, Joko juga menyatakan sumpah bahwa ia tidak pernah memyampaikan dirimya anggota dewan.
     "Sumpah demi Allah, demi Rosulnya, saya tidak pernah mengatakan itu kepada dokter Vidya, justru ia yang marah-marah dan bilang ia istri tentara, "ucap Joko Cahyono. (Lis)

Heran, Gelar Jumpa Pers, Manajemen RSUD Bangil Justru Tampakkan Arah Komunikasi Yang Buruk

Lebel: RSUD Bangil
Manajemen saat jumpa pers

Pasuruan, Pojok Kiri
     Kasus matinya seorang pasien di RSUD Bangil yang diduga akibat kelalaian dokter karena tidak melakukan visite yang kemudian viral karena berlanjut pada perselisihan dan adu urat leher antara seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Joko Cahyono dengan dokter poli penyakit dalam vidya Eka Damayanti disikapi serius oleh manajemen RSUD Bangil.
     Pemberitaan yang dalam beberapa hari terakhir mencuat, akhirnya memaksa manajemen RSUD Bangil menggelar jumpa pers.
     Kamis pagi (10/10) bertempat di ruang Bumi kantor manajemen RSUD Bangil, wartawan yang sebelumnya sudah diundang melalui pesan whatsapp datang dan siap mendengarkan apa saja hal yang akan disampaikan manajemen.
     Sebelum duduk di kursi yang disiapkan, di pintu masuk sudah ada petugas perempuan yang mempersilahkan wartawan untuk tanda tangan dua kali lalu diberi sebungkus kotak yang isinya dua kue tapi tidak ada minum di dalamnya.
    Pojok Kiri sempat terlambat datang karena ketiduran. Acara sudah jalan sekitar 20 menit, Pojok Kiri baru buka pintu dan dihadang untuk tanda tangan lalu diberi kotak yang isinya dua kue tanpa minuman itu.
     Terlihat di dalam ruangan bak sidang Paripurna itu ada wartawan yang jumlahnya lebih dari 10 orang.
    Saat duduk di kursi biru yang sudah di sediakan. Pojok Kiri lalu mengamati manajemen yang duduk di bangku depan bak pimpinan dewan saat sedang gelar rapat paripurna. Bangku depan warna merah itu berjumlah 4. Namun yang terisi hanya 3.
    Di sebelah kiri berdasarkan pandangan mata, ada seorang perempuan yang kemudian dikenalkan bernama Tri Siswati, Kepala Pengembangan. Lalu di tengah yang mendominasi pembicaraan dan sebagai juru bicara bernama M. Jundi yang mengenalkan diri selaku Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan. Terakhir sebelah kanan berdasarkan pandangan mata, ada pria yang dikenalkan bernama M. Hayat, disebut menjabat Humas RSUD Bangil.
    Ada tanda tanya dalam benak Pojok Kiri, kemana dokter Vidya Eka Damayanti yang notabene paling pas untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
    Pertanyaan itu sempat terlontar dari mulut Pojok Kiri, yang kemudian dijawab oleh M. Jundi bahwa dokter Vidya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kata M. Jundi, jika ditinggal maka penanganan pasien akan kelabakan.
    Mendengar jawaban itu, benak Pojok Kiri jadi bingung, ditinggal sarasehan beberapa hari saja tidak apa-apa, masak hanya nemui wartawan paling lama 1 jam ga bisa. Tapi ya sudah tidak usah didebat, karena alasan M. Jundi tidak masuk akal, percuma juga ditanyakan.
     Lepas dari itu, ada catatan fatal dalam jumpa pers yang dilakukan manajemem RSUD Bangil. M. Jundi dihadapan wartawan. Mereka bukannya meredam suasana, eh, malah memanaskan suasana.
    Kepada wartawan, M. Jundi membela anak buahnya, dengan mengatakan bahwa yang memulai pertikaian adalah Joko Cahyono karena menggebrak meja, menuding pakai tangan, bilang jancok dan menyebut dirinya anggota dewan.
     Tentu sah-sah saja membela anak buahnya. Namun cara komunikasi M. Jundi ini justu terlihat sangat buruk dan lebih mengedepankan emosi daripada pikiran yang jernih.
    Dalam hati Pojok Kiri bertanya -tanya, kenapa tidak lebih memilih menyampaikan sikap agar hal ini tidak dibesar-besarkan, apa yang terjadi merupakan sebuah kesalahpahaman tanpa harus saling menyalahkan. Tapi hal itu tidak usah diajari, tentunya M. Jundi lebih pintar.
     Akibat komunikasi yang buruk menajemen RSUD Bangil itu, akhirnya dibalas statemen keras Joko Cahyono bahwa M. Jundi menyampaikan 1000 persen kebohongan. Kasus berlanjut dengan agenda pemanggilan oleh DPRD, serta ada pengaduan ke Polres. Salahkah jika mengutip catatan Rocky Gerung jika ada 'Kedunguan' di manajemen RSUD Bangil? (Lis)




LSM Resmi Adukan RSUD Bangil Ke Polres Pasuruan

Lebel : RSUD Bangil
Tanda terima surat aduan



Pasuruan, Pojok Kiri
     Dugaan kelalaian yang dilakukan dokter RSUD Bangil, Vidya Eka Damayanti yang atas tindakannya meninggalkan pasien sehingga berdampak pada kematian pasien secara resmi diadukan oleh LSM LIRA, LSM Cinta Damai, serta perwakilan masyarakat non organisasi.
    Kamis (10/10) perwakilan LSM LIRA Jatim, Prima, Ketua LSM Cinta Damai, Hanan, Anjar perwakilan masyarakat datang ke Polres Pasuruan sambil membawa berkas ber map hijau.
     Isi dari map itu sebagaimana ditunjukkan kepada Pojok Kiri adalah surat aduan atas dugaan kelalaian pihak rumah sakit, dalam hal ini dokter Vidya Eka Damayanti.
     Pengaduan itu disampaikan ke Polres Pasuruan dan diterima oleh Seksi Umum sekira pukul 12.00 WIB.
LSM saat di ruang pengaduan Polres Pasuruan

     Prima selaku juru bicara LSM menyampaikan, aduan yang mereka sampaikan itu terkait adanya kasus dimana dokter Vidya yang bertanggungjawab atas pasien bernama Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen tidak melakukan visite (pengecekan berkala) dalam beberapa hari sehinga terjadi penurunan darah putih, dari sebelumnya 161 anjlog menjadi 116 setelah dirawat selama 3 hari.
     Akibat dari sikap dokter itu, pasien EKo BS akhirnya meninggal dunia, Senin (07/10).
     Prima menyebut, kelalaian yang dilakukan dokter ini merupakan cerminan buruk pelayanan RSUD Bangil yang harus diselidiki dari sisi hukum.
    "Inti aduan ini agar ada tindakan dari pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Sebab akibat kelalaian yang terjadi, ada pasien yang menjadi korban, "ujar Prima.
     Terpisah, atas aduan yang dilakukan LSM ke Polres ini, M. Jundi, Wadir Pwlayanan di hadapan wartawan mengaku akan menjelaskan semua ke pihak kepolisian.
     "Kami akan jelaskan semua bahwa yang terjadi tidak demikian. Sebab meski ditinggal oleh dokter Vidya yang bertanggungjawab di poli penyakit dalam. Tetap ada visite yang dilakukan oleh dokter spesialis, "kata M. Jundi. (Lis)

Sikapi Keras Kasus RSUD Bangil, Senin Depan DPRD Jadwalkan Panggil Manajemen

Lebel : RSUD Bangil
Andre Wahyudi

Pasuruan, Pojok Kiri
     Terkait dugaan kelalaian dan lelayanan buruk RSUD Bangil, DPRD Kabupaten Pasuruan melalui Komisi 4 sudah mengagendakan memanggil manajemen. Rencananya pemanggilan ini dilakukan pada hari Senin, 14 Oktober mendatang. Hal ini sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPRD, Andre Wahyudi, Kamis (10/10).
      Tujuan pemanggilan ini terang Andre, untuk melakukan klarifikasi atas kejadian dugaan kelalaian pihak dokter RSUD Bangil yang meninggalkan pasien sehingga berakibat pasien paru-paru bernama Eko BS mati.
     "Dari pembelajaran kasus seperti ini, ke depan jangan sampe terjadi lagi. Kami sudah koordinasi dengan komisi 4 untuk memanggil pihak manajemen rumah sakit. Jadwalnya sudah kami pastikan, Senin (14/10) pemanggilan kami lakukan, "kata Andre. (Lis)

Wadir Pelayanan RSUD Bangil Katakan Mister 'J' Yang Duluan Kasar Dan Sebut Dirinya Anggota Dewan, Joko Tuding Balik, Si Wadir Lakukan 1000 Persen Kebohongan

Lebel : RSUD Bangil
Joko Cahyono VS Dokter Jundi



Pasuruan, Pojok Kiri
     Polemik seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Joko Cahyono yang sempat menanyakan perkembangan kesehatan seorang pasien bernama Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen kepada seorang dokter RSUD Bangil bernama Vidya Eka Damayanti yang disambut sikap keras si dokter dengan menyebut tidak peduli anggota Dewan, tidak peduli LSM dengan menyebut ia istri tentara pada Senin (07/10) berbuntut panjang.
     Pihak RSUD Bangil melalui manajemen dalam giat konferensi pers, Kamis pagi (10/10) yang dihadiri M. Jundi, Wadir Pelayanan, Tri Siswati, Kepala Pengembangan, dan M. Hayat selaku humas bukannya meredam masalah dengan meminta maaf atas kejadian itu, mereka justru melontarkan bantahan dan sikap membela diri.
     Sebagaimana dikatakan M. Jundi, pihak yang memantik masalah itu adalah Joko sendiri yang disebutnya sebagai mister 'J'.
     Saat itu terang Jundi, mister 'J' menanyakan perkembangan pasien. Di tengah komunikasi itu terjadilah miskomunikasi yang kemudian suasana memanas dan mister 'J' menggebrak meja, menudingkan tangan dan bilang jancok sambil katakan dia anggota Dewan.
     "Jadi yang duluan kasar itu pihak 'J'. Karena mendengar lontaran 'J' anggota Dewan, dokter Vidya lalu reflek katakan jika ia tidak peduli anggota Dewan atau LSM sambil bilang ia istri tentara, "terang Jundi.
      Penjelasan yang disampaikan M. Jundi, Wadir Pelayanan RSUD Bangil tanpa ada dokter Vidya dalam konferensi pers tersebut dibantah keras oleh Joko Cahyono. Ketua Fraksi Nasdem yang juga menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan ini balik menuding M. Jundi melakukan seribu kebohongan.
     ""ini kebohongan ditutup dengan kebohongan. Jika dia bilang saat itu saya mengaku anggota Dewan, itu Jundi 1000 persen bohong. Tidak ada kata-kata seperti disampaikan itu. Saya bertanya dalam kapasitas keluarga pasien, sama sekali saya tidak menyebut anggota Dewan, "ujar Joko Cahyono.
     Lepas dari itu, Joko Cahyono mengaku tidak ada masalah pribadi yang ia bawa-bawa antara ia dengan dokter Vidya. Ia hanya menyesalkan masalah pelayanan di RSUD yang buruk, sehingga membuat pasien bukannya sembuh malah mati.
     "Esensinya, boleh gak dokter itu pergi meninggalkan pasien selama berhari-hari, "selorohnya. (Lis)

Besok LIRA Laporkan Dokter Dan Manajemen RSUD Bangil Ke Polres Pasuruan, Terkait Dugaan Lalai Akibatkan Pasien Maninggal Dunia

Lebel : RSUD Bangil
Pasien yang meninggal dunia dan petinggi LIRA, Prima

Pasuruan, Pojok Kiri
     Meninggalnya Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan saat menjalani rawat inap di RSUD Bangil berbuntut panjang pasca seorang anggota keluarganya bernama Joko Cahyono yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan mendapat perlakuan buruk dari dokter yang disebut bernama dr. Widya Eka Damayanti.
     Lepas dari itu, meninggalnya pasien paru-paru Eko BS Senin sore (07/10) sekira pukul 17.00 WIB kini menjadi sorotan banyak pihak. Sebab dalam hal penanganan pasien diduga ada kelalian, karena sebagaimana fakta yang disampaikan Joko Cahyono, di hari meninggalnya Eko BS, dokter yang bertanggungjawab, yakni dr. Widya Eka Damayanti tidak melakukan pengecekan berkala pasien (visit) karena ditinggal menghadiri kegiatan di Surabaya.
     Kesan menerlantarkan pasien ini menjadi garis bawah adanya unsur lalai yang seolah disengaja. Oleh karenanya, LSM LIRA yang sejak awal menyoroti kasus ini, kini ancang-ancang untuk membawanya ke ranah hukum.
    Melalui Bendahara LIRA Jatim, Prima, rencananya Kamis (09/10) LIRA bersama LSM lain akan melaporkan dokter Widya Eka Damayanti dan manajemen RSUD Bangil ke Polres Pasuruan atas dugaan kelalaian yang berakibat pasien meninggal dunia.
     "Besok kami akan lapor ke Polres Pasuruan, intinya dalam kasus ini diduga ada unsur kelalaian yang berakibat matinya seseorang, jadi harus ada tanggungjawab hukumnya, "ucap Prima.
     Selain itu, pasca ke Polres, LIRA juga akan ke DPRD untuk menyampaikan laporan, yang intinya meminta DPRD membentuk Pansus terkait kasus RSUD Bangil ini.
     "Dari Polres kami akan ke DPRD, tujuannya mendesak DPRD untuk membentuk Pansus demi membahas kasus yang terjadi di RSUD Bangil, "ujarnya.
     Sayangnya, hinngga berita ini turun, Pojok Kiri belum berhasil mendapat konfirmasi dari pihak RSUD Bangil. Sang Plt Direktur, Agung Basuki sulit dihubungi, sedang M. Hayat, humasnya juga tidak respon saat berusaha ditelpon. (Lis)



Petinggi LIRA Jatim Kecam Sikap Arogansi Dokter RSUD Bangil, Terkait Sikapnya Yang Remehkan LSM

Lebel : RSUD Bangil
Prima

Pasuruan, Pojok Kiri
     Sikap dr.Widya Eka Damayanti, salah satu dokter di RSUD Bangil yang disebut arogan dan tidak profesional oleh Joko Cahyono Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Pasuruan dan terkesan menganggap remeh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendapat kecaman dari petinggi LSM Lumbung Inspirasi Rakyat (LIRA) Jatim, Prima.
     Pria asal Pasuruan yang menjabat Bendahara LIRA Jatim ini menyebut, apa yang disampaikan dr.Widya Eka Damayanti adalah sangat arogan dan tidak menunjukkan SDM yang mumpuni sebagai seorang dokter.
    Prima menilai, dr.Widya terkesan sentimen dengan LSM.
     "LSM memiliki badan hukum yang sah dan bisa bertindak dan atas nama hukum, dokter satu ini kok kesannya memandang rendah, "ungkap Prima.
     Atas apa yang diucapkan dr. Widya yang tidak peduli LSM, padahal ada keluarga pasien yang bertanya normatif soal perkembangan pasien menurut Prima patut menjadi catatan LSM lain. LSM yang notabene punya keberanian bertanya saja diperlalukan kasar. Apalagi keluarga yang awam.
    "Sikap kasar dr. Widya ini terkesan menutupi kasalahan yang ia lakukan. Jadi tidak boleh dibiarkan. LIRA akan lakukan invenstigasi juga, "ucap Prima.
     Sikap kasar yang ditampakkan dr. Widya bermula saat salah satu keluarga pasien, Joko Cahyono bertanya soal kondisi pasien bernama EKO BS yang dirawat karena sakit paru-paru. Namun bukan jawaban enak yang diterima, Joko malah mendapat perlakuan kasar dan menganggap ia adalah LSM yang tak perlu ditakuti. Padahal Joko tidak pernah bilang ia anggota LSM. (Lis)

Berobat Ke RSUD Bangil, Bukan Sembuh, Pasien Malah Tewas, Diduga Ada Kelalaian Dokter

Lebel: RSUD Bangil
Pasien, Eko BS saat masih menjalani perawatan

Pasuruan, Pojok Kiri
     Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan tewas saat di rawat inap di RSUD Bangil, Senin sore (07/10) sekira pukul 17.00 WIB.
     Tewasnya pasien yang selama 3 hari rawat inap ini diduga akibat ada kelalaian dokter yang tidak mengunjungi pasien (visit) berkala demi melaksanakan kegiatan lain.
     Catatan dugaan kelalaian ini disampaikan oleh Joko Cahyono selaku keluarga pasien. Joko yang seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dengan jabatan ketua Komisi 2 serta ketua Fraksi Nasdem ini mengaku sempat menjenguk pasien di ruang HCU Lantai III sekira pukul 13. 00 WIB sebelum pasien meninggal dunia.
     Saat menjenguk, Joko mengaku menerima curhatan dari keluarga lain yang menjaga.
     Menurut keluarga sebagaimana disampaikan Joko, pada hari sebelum pasien meninggal dunia, pasien tidak diperiksa secara berkala (divisit) oleh dokter yang bertanggungjawab, yakni dr Widya Eka Damayanti.
    Saat dicari data perkembangan, ternyata ada penurunan sel darah putih setelah Tiga hari dirawat. Sebelum masuk perawatan, jumlah sel darah putih 161, anehnya, setelah dirawat selama 3 hari justru turun menjadi 116.
     Melihat fakta itu, Joko lalu mengkonfirmasi perkembangan pasien ke dr Widya. Namun bukan keterangan baik dan valid yang didapatkan, dokter yang bertanggungjawab terhadap pasien Eko BS justru marah-marah dan berkata kasar.
     “Saat itu saya mengingatkan bahwa tindakan dokter tidak melakukan visit itu salah. Namun bukannya ia meminta maaf, saya justru dibentak dan mengaku tidak takut dengan LSM. Saya jelaskan bahwa saya bukanlah LSM yang mungkin dianggap menakut-nakuti paramedis. Saya bilang bahwa saya adalah keluarga pasien yang ingin mengetahui perkembangan kesehatannya. Eh dia malah makin marah, "kenang Joko.
     Menurut Joko, dr Widya malah nantang dan mengatakan tidak peduli dengan LSM.
    “Saya tidak peduli kamu LSM, suami saya tentara,” ujar Joko menirukan ucapan dr Widya.
     Setelah mendapat perlakuan buruk dokter di RSUD Bangil,Joko lalu menyampaikan hal ini ke Plt Direktur, dr Agung Basuki yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan.
     Menurut Joko, direktur sudah merespon dan berjanji akan menindaklanjuti.
    dr. Agung saat ditanya wartawan berjanji akan melakukan evaluasi terhadap dokter yang arogan.
     Namun ada hal lain yang menjadi dampak dari sikap tidak profesional dan menyalahi prosedur yang dilakukan dr. Widya. Pasien Eko BS hari itu meninggal dunia.
     Kematian yang diduga akibat keteledoran paramedis RSUD Bangil ini mengetuk Ketua Yayasan Lembaga Hukum Perlindungan Konsumen dan Pelaku Usaha (YLHPK-PU) Edi Santoso. Kepada Pojok Kiri, ia mengaku akan menginvestigasi. (Lis)

Layanan RSUD Bangil Tak Manusiawi!!!! Alasan Tak Sanggup Sambung Jari, Pasien Malah Diusir Dari IGD

Pasien saat masih di IGD RSUD Bangil

Pasuruan, Pojok Kiri
      Pelayanan RSUD Bangil sungguh tak manusiawi. Pasalnya, seorang bernama Isroil (25), warga Desa Mangga Tengah, Pasrepan yang mengalami kecelakaan dan hendak berobat bukannya dilayani dengan baik oleh pihak rumah sakit, malah diusir dari ruang IGD oleh oknum petugas rumah sakit.
      Cerita memilukan ini disampaikan oleh Mas boy salah satu teman dari Isroil, Kamis (24/01). Boy yang saat itu ikut mengantarkan kawannya berobat mengaku sangat kaget dan geram dengan perlakuan petugas RSUD Bangil.
      Sebagaimana cerita Mas Boy, temannya yang bernama Isroil mengalami kecelakaan jatuh dari atas mobil molen saat mencuci bagian belakangnya. Kecelakaan itu terjadi pada Rabu sore  (23/01) sekira Pukul 17.30 WIB di Di kawasan Sengon, Purwosari tempat kerja si korban.
      Akibat kecelakaan itu terang Mas Boy, jari korban mengalami putus. Oleh teman-teman korban, sekitar pukul 17.40 ia dlarikan ke Puskesmas Purwosari yang kemudian dilakukan pertolongan, si korban diperban sementara.
     Lantaran kondisi jari korban cukup parah, oleh Puskesmas kemudian dirujuk ke RSD Bangil. Korban kemudian dibawa sekitar pukul 18.00 WIB.
      Sesampai di RSUD Bangil, ada jawaban ternyata pihak rumah sakit tak sanggup untuk menyambung jari korban. Pihak RSUD Bangil menyarankan untuk dirujuk ke RS. Dokter Sutomo, Surabaya.
      Ironisnya, ujar Mas Boy, pihak RSUD Bangil hanya memberi arahan rujuk saja tanpa ada tindakan perawatan terlebih dahulu.
     Pihak pengantar si korban lalu meminta agar temanya diberikan surat rujukan dan diantar ke RS Dr. Sutomo menggunakan ambulan. Namun oleh petugas, mereka disuruh pergi sendri dengan alasan tidak ada ambulan untuk mengantar.
     "Padahal kami siap membayar, "ucap Mas Boy.
      Gilanya, lanjut Mas Boy, selain tidak mau mengantar, pihak RSUD Bangil juga tidak memberikan surat rujukan atau pengantar Bahkan oleh seorang perawat perempuan yang bertugas di IGD, mereka diusir dari IGD karena dianggap sudah tidak dirawat di situ lagi.
      "Kami disuruh keluar dari ruangan IGD oleh salah satu perawat perempuan dengan nada kasar dan tidak sopan. Alasannya karena teman kami sudah tidak dirawat di situ lagi (IGD RSUD Bangil, red), "ungkapnya.
     Yang miris dan menyedihkan, serta tak manusiawinya RSUD Bangil, saat si korban diusir dari ruang IGD, ia masih dalam kondisi lemah karena banyak mengeluarkan darah.
      "Di sini saya sangat kecewa dan geram atas pelayanan dan tak manusiawinya petugas RSUD Bangil. Sungguh para petugas tidak punya perasaan. Di saat pasien butuh perawatan dan dalam kondisi lemah, malah disuruh keluar tanpa dikasih tindakan apa-apa, apakah memang seperti ini manajemennya! "kecam Mas Boy.
       Sayang hingga berita ini turun belum ada pihak RSUD Bangil yang bisa dihubungi. Upaya Pojok Kiri menghubungi Humas RSUD Bangil,  Ghozali di nomor phonselnya 0813300338xx pukul 15.37 WIB, ada nada sambung tapi tidak diterima. (Lis)
KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas