RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Penjarakan Kontraktor dan Pengawasnya, Kasus Atap Ambruk SDN Gentong Tewaskan Guru Dan Murid

Atap yang ambruk

Pasuruan, Pojok Kiri
     Atap Empat ruang kelas SDN Gentong Kota Pasuruan, tiba-tiba ambruk, kejadian mengerikan Selasa (5/11) sekitar pukul 09.30 WIB itu menewaskan Satu guru bernama Sevina Arsy Wijaya (19 th) dan Satu murid bernama Elza Almira (8th). Selain itu belasan murid dan guru yang lain ikut terluka.
     Kasus ini sudah ditangani pihak Polres Pasuruan kota. Saat ini polisi terus melakukan penyeledikan dengan meminta keterangan dari sejumlah saksi.
     Kepada wartawan, Kapolres Pasuruan Kota, AKBP Agus Sudaryatno mengatakan, pihaknya telah melakukan penyeldikan dan akan melibatkn tim Labfor Polda Jatim.
Salah satu korban

    Dugaan semetara ambruknya atap yang menelan korban jiwa itu akibat kontrusksi yang tidak sesuai.
    "Kita masih melakukan penyelidikan, dugaan sementara kontruksi tidak sesuai, "ujar Kapolres.
     Atap yang ambruk saat berlangsung giat belajar mengajar itu tentu saja mengerucut pada dugaan proyeknya yang bobrok. Diduga proyek 2017 itu banyak dikorup sehinga kualitasnya jadi buruk.
    "Aparat harus usut hingga tuntas, kontraktor dan pengawasnya harus dipenjara. Ini sudah fatal, "kata tokoh pemuda Pasuruan, Prima yang juga pengurus LSM LIRA Jatim. (isb/yud/lis)

Persahabatan Lalaikan Keselamatan


Pasuruan, Pojok Kiri
     Apa yang dilakukan Dua remaja berboncengan membawa motor ini patut diapresiasi karena demi membantu teman cewek yang mengontel, mereka mendorong si cewek agar laju sepeda cewek lebih cepat.
    Namun apa yang dilakukan remaja sekolah ini patut juga mendapat teguran, sebab apa yang mereka lakukan sangat membahayakan.

     Bayangkan saja, mereka berkendara di jalan raya tanpa mengenakan helm, serta mendorong kendaraan dengan cara merangkul, sudah pasti membahayakan mereka semua, serta ada pemandangan buruk karena menyangkut pria dan wanita.
    Foto ini diambil oleh warga di jalan raya Rejoso depan Pabrik Samsung pada Senin, 04 November 2019. (*)




Wujudkan Generasi Berprestasi, Kreatif, Berkarakter dan Berakhlak Mulia, Dispendik Gelar Lomba Aku Anak Sholeh dan Sholeha

Saat lomba alu anak sholeh dan sholiha berlangsung

Pasuruan, Pojok Kiri
     Demi terwujudnya generasi yang
berprestasi, kreatif, berkarakter dan berakhlak mulia, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Pasuruan menggelar lomba 'Aku Anak Sholeh dan Sholeha', Sabtu (02/11).
     Kegiatan yang diadakan di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan, Raci Bangil ini diikuti oleh sebanyak 483 peserta dari guru dan siswa Raudatul Athfal (RA), yang terdiri 230 siswa, dan 253 guru.
     Kadispendik Kabupaten Pasuruan, Dr. H. Iswahyudi, M.Pd didampingi Kabid Perguruan Agama (Pergurag), M Yusuf menyampaikan, tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan Kreatifitas guru dan siswa RA, mengembangkan sikap sportivitas dan berkompetensi dengan sehat, serta meningkatkan prestasi siswa RA di tingkat Provinsi.
     Sementara itu, hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan potensi guru dan anak, memupuk rasa percaya diri, serta mengasah kemampuan menjadi lebih baik lagi.
    Materi lomba aku anak sholeh dan sholeha ini lenjut Iaswahyudi, untuk siswa meliputi Lomba Tahfidz Hadits, Melukis Kaligrafi, dan Lari Estafet. Sedang untuk guru meliputi Tahfidz Juz 30 dan Yel-yel.
     "Ajang lomba Anak Sholeh dan Sholeha ini merupakan upaya pemberian stimulasi atau rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak usia dini tumbuh
dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter. Berkaitan dengan hal ini lah, maka kegiatan ini kami gelar, "ujar Iswahyudi. (Lis)

Beredar Pesan Ajakan Demo, Siswa SMAN 1 Tosari Dan Satu SMA Swasta Di Tutur Ikrar Menolak

Siswa SMAN 1 Todari saat sampaikan ikrar menolak ajakan demo



Pasuruan, Pojok Kiri
     Dalam beberapa hari terakhir, kalangan siswa SMA di Kabupaten Pasuruan menerima pesan berantai ajakan demo ke DPRD.
     Dalam pesan melalui medsos itu, para siswa diajak untuk mengikuti demo di DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin, 30 September 2019. Pesan itu menekankan agar para siswa mengosongkan bangku kelas di hai H tersebut.
     Menyikapi ajakan dari pesan yang beredar luas itu, sejumlah sekolah mulai melangkah dengan melakukan pencegahan.
     Hal yang dilakukan, selain akan memantau ketat para siswa, pihak sekolah juga melakukan pendekatan persuasif kepada anak didiknya.
Siswa SMA Kristen Baithani saat sampaikan ikrar menolak ajakan demo

    Lepas dari upaya sekolah tersebut, para siswa ternyata juga sudah pandai. Mereka tidak mudah terprovokasi oleh ajakan yang tak jelas sumbernya tersebut. Para siswa dengan tegas menyatakan sikap tidak akan ikut ajakan dari pesan yang beredar.
     Diantara sekolah yang secara tegas menyatakan sikap untuk tidak akan mengikuti ajakan demo adalah SMAN 1 Tosari. Sekolah yang dipimpin Kepsek Drs. Abdul Rokhim, M.Si ini siswa siswinya telah berikrar untuk tidak terpancing dan akan menjalankan proses belajar seperti biasa.
      SMA lain yang juga secara tegas tidak akan ikut ajakan unjuk rasa adalah SMA Kristen Baithani, Tutur. Sekolah yang dipimpin Tutik Sujiati S.Pd ini juga seirama. Siswa siswinya tidak akan ikut-ikutan dalam aksi unjuk rasa sebagaimana pesan berantai yang menyerbu kalangan siswa.
     "Intinya kami ingin Kabupaten Pasuruan selalu aman. Kami semua secara tegas menolak ajakan demo, "ujar siswa siswi SMAN 1 Tosari dan SMA Kristen Baithani. (Lis)

Pemkab Pasuruan Lakukan Perombakan Kepsek Dan Pengawas Sekolah

Undangan rencana mutasi Kepsek

Pasuruan, Pojok Kiri
     Memasuki ajaran baru tahun 2019 kali ini, Pemkab Pasuruan melakukan langkah jitu dengan merombak para Kepala Sekolah dan pengawas di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan.
    Rencana perombakan atau mutasi para Kepala Sekolah (Kepsek) dan pengawas itu sebagaimana surat undangan yang beredar akan dilakukan pada Senin pagi (19/08) sekira pukul 07.30 WIB di pendopo Bupati Pasuruan.
     Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Pasuruan, Henis saat dikonfirmasi Pojok Kiri, Minggu (18/08) mengatakan, mutasi yang dilakukan oleh Pemkab Pasuruan ini sifatnya normatif. Menurut dia, sudah terhitung 3, 5 tahun belum pernah dilakukan mutasi untuk jabatan Kepala Sekolah.
     Sementara itu, untuk Kepala Sekolah yang dimutasi meliputi Kepala Sekolah Dasar (SD) dan Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP).
     "Untuk detailmya Dinas Pendidikan  yang tahu, sebab nama-nama yang dimutasi untuk Kepala Sekolah dan pengawas ini atas usulan Dispendik, "tukas Henis.
    Namun terang Henis, dalam mutasi ini tidak semua Kepala Sekolah ikut.
    "Tidak semuanya, hanya sebagian, "ujarnya.
     Sayangnya Pojok Kiri yang berusaha mencari informasi berapa jumlah Kepala Sekolah yang akan dimutasi belum mendapatkan. Kadispendik Kabupaten Pasuruan, Iswahyudi belum memberi respon saat dihubungi melalui nomor ponselnya. (Lis)

Minta Sumbangan Wali Murid, SMPN 2 Pandaan Masukkan Daftar Uang Lelah Senilai Rp. 217, 8 Juta

Catatan item sumbangan SMPN 2 Pandaan yang sempat disampaikan saat rapat dengab wali murid, Sabtu, 27 Juli 2019



Pasuruan, Pojok Kiri
     Sekolah benar-benar tidak murah. Meski digembar gemborkan sampai mulut dower bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran APBN sebanyak 20 persen untuk pendidikan dengan menguatkan jargon demi 'Sekolah murah', ternyata faktanya nol besar.
     Untuk sekolah kelas SMA sederajat, tidak usah ditanya lagi. Meski katanya SPP gratis. Tapi tetap saja bayarnya selangit.
    Tak kalah dengan SMA, sekolah menengah pertama (SMP) juga melakukan hal sama. Wali murid jadi 'target' untuk mengisi pundi-pundi sekolah dengan bahasa yang sudah bosan didengar, yakni sumbangan wali murid.
     Terkait sumbangan wali murid ini memang tak bisa ditolak begitu saja. Faktor psikologis anak yang sekolah di dalamnya membuat sang wali murid selalu oke saja saat ikut rapat yang membahas sumbangan-sumbangan. Namun ketika di luar, barulah sang wali murid teriak karena merasa terbebani.

     Salah satu SMP yang wali muridnya teriak adalah SMPN 2 Pandaan. Sekolah yang dikepalai Heru ini dianggap menarik sumbangan dengan kegunaan yang patut dipertanyakan.
     Di sekolah ini, untuk kelas VII atau satu SMP ada permintaan sumbangan dengan nilai total Rp. 1. 503. 300,- di luar seragam. Nilai itu dianggap cukup besar dan membebani bagi wali murid.
    Rincian sumbangan itu sendiri, ada beberapa item yang membuat para wali murid bertanya-tanya, karena dianggap tak masuk akal.
     Contoh beberapa item sumbangan itu antara lain, uang lelah penyaji materi jam pagi senilai Rp. 217. 800 juta, sumbangan peringatan hari jadi Kabupaten Pasuruan Rp. 20 juta, sumbangan kegiatan rapat komite dan managemen Rp. 30 juta.
    Beberapa wali murid menganggap uang yang dimintakan ke mereka dengan dalih bantuan itu cukup aneh.
     Mereka yang tidak mau disebut namanya bertanya-tanya. Masak ada istilah bantuan untuk uang lelah. Lalu bantuan rapat komite yang notabene isinya adalah wali murid sendiri. Lalu ada bantuan kegiatan hari jadi Kabupaten Pasuruan. Bukankah giat hari jadi sudah dianggarkan oleh Pemkab Pasuruan?
     Pertanyaan demi pertanyaan tersebut ingin disampaikan oleh para wali murid ke pihak sekolah. Namun karena takut anaknya di sekolah jadi sasaran, para wali murid lebih memilih diam di dalam sekolah dan memilih teriak di luar sekolah.
     Sementara itu, terkait pertanyaan para wali murid ini, belum ada penjelasan dari sang Kepsek SMPN 2 Pandaan, Heru. Pojok Kiri yang berusaha mengkonfirmasi melalui pesan singkat ke nomor phonselnya, Senin (29/07) tidak mendapat jawaban. (Lis)
KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas