RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Permintaan Maaf Plt Direktur RSUD Bangil Sangat Memukau, Keluarga Korban Dan Anggota DPRD 'Terhipnotis'

Agung Basuki Plt Direkrur RSUD Bangil

Pasuruan, Pojok Kiri
     Dalam pertemuan antara manajemen RSUD Bangil dengan keluarga korban Eko BS, pasien yang meninggal dunia akibat dugaan kelalaian RSUD Bangil yang difasilitasi oleh DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (14/10) secara mutlak di permukaan ada "Kemenangan" yang diraih oleh manajemen RSUD Bangil.
    Dalam hal ini, diplomasi dari sang Plt Direktur, Agung Basuki yang menggunakan jurus meminta maaf dan disampaikan berkali-kali dengan kalimat sangat menghibah membuat keluarga korban akhirnya memaafkan.
     Catatan menariknya dalam pertemuan tersebut, sejumlah anggota dewan Komisi 4 yang hadir juga ikut terlena dengan jurus sakti Agung Basuki yang dalam penyampaiannya selain minta maaf juga menyalahkan anak buahnya yang tidak merujuk langsung si pasien.
    "Anak buah saya salah, harusnya sejak awal masuk sudah dirujuk, sebab RSUD Bangil memang tidak mampu mengobati pasien dengan sakit yang diderita, "kata Agung.
     Cerdik dan pandai, kemampuan Agung Basuki berdiplomasi akhirmya mampu megalihkan perhatian, sehingga para anggota komisi 4 yang hadir lebih pada menasehati agar RSUD Bangil ke depannya bisa memberi pelayanan yang lebih baik.
     Demikian juga dengan Wakil Ketua, Andre Wahyudi yang memimpin rapat. Ia bahkan memberi kesempatan agar RSUD Bangil mengajukan anggaran untuk memenuhi kebutuhannya termasuk mengkritik taman yang kurang segar.
     Pembicaraan yang bias kemana-mana tanpa fokus pada persoalan matinya pasien Eko BS ini menunjukkan hebatnya Agung Basuki dalam berdiplomasi. Saking hebatnya, pertemuan yang masih diselimuti duka keluarga korban tersebut masih sempat-sempatnya tercetus canda tawa.
     Melihat wajah istri korban yang dipanggil mbak iin dan saudaranya yang bermimik sedih bahkan sempat menangis kala disampaikan anaknya yang masih kecil selalu mencari ayahnya, tak ada satupun anggota dewan yang melihat ke arah itu, kecuali Joko Cahyono yang juga keluarga korban.
    Kehebatan diplomasi Agung Basuki ini akhirnya berbuah pada saling memaafkan di permukaan.
    Joko Cahyono di sela permintaan maaf Agung hanya meminta dua syarat, yakni manajemen mencabut rilis yang tersebar karena dianggap penuh kebohongan, dan memberi sanksi kepada dokter serta pihak yang ikut terlibat dalam kematian korban tanpa meminta pertanggungjawaban kepada manajemen RSUD Bangil.
     Catatan yang perlu digarisbawahi, dokter Vidya Eka Damayanti dalam hal ini hanya pelaksana, yang paling bertanggungjawab tentu adalah pimpinannya. (Lis)

Kasus Dugaan DokterTerlantarkan Pasien Di RSUD Bangil, Kata Wadir, M. Jundi, Dokter Yang Bersangkutan Mengundurkan Diri

Manajemen RSUD Bangil saat hadiri panggilan dewan

Pasuruan, Pojok Kiri
     Kasus dugaan penerlantaran pasien Leo Kimia bermana Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan oleh dokter RSUD Bangil yang berakibat pada kematian si pasien berbuntut pada pemanggilan manajemen RSUD Bangil oleh Komisi 4 DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (14/10).
     Dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Andre Wahyudi yang dihadiri para pimpinan Komisi 4 dan keluarga pasien, diantaranya Joko Cahyono dan istri korban iin, serta salah satu saudaranya, Komisi 4 lalu mempertemukan mereka dengan manajemen yang dihadiri Plt Direktur, Agung Basuki Wadir, M. Jundi, serta dua staf perempuan.
    Dalam pertemuan itu, tak tampak sosok dokter Vidya Eka Damayanti yang terlibat langsung dalam persoalan ini serta yang dianggap bertanggungjawab kaitannya Poli Penyakit Dalam dimana sang pasien dirawat.
    Dalam pembukaan narasi pembicaraan, Agung Basuki sang Plt Ditektur yang diberi kesempatan berbicara lebih awal oleh pimpinan rapat, Andre Wahyudi langsung menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya.
     Menurut Agung, memang tidak pantas dan melanggar etika ketika ada dokter yang bersikap kasar, baik kepada pasien maupun keluarga pasien.
     "Untuk itu saya selaku pimpinan di RSUD Bangil meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini, "kata Agung.
     Setelahnya, pembicaraan disampaikan oleh Wakil Direktur Pelayanan, M. Jundi.
     Di hadapan para wakil rakyat dan keluarga korban, M. Jundi menyampaikan bahwa untuk dokter Vidya sedianya ingin diajak untuk menghadiri panggilan DPRD ini. Namun menurutnya, dokter Vidya secara lisan sudah menyampaikan risent (pengunduran diri, red).
     "Maunya tadi itu dokter Vidya kami ajak untuk ikut datang ke DPRD ini, akan tetapi saya dapat penyampaian secara lisan bahwa yang bersangkutan risent, "kata M. Jundi.
     Lepas dari itu, dalam pertemuan yang digelar di salah satu ruang rapat kantor DPRD Kabupaten Pasuruan itu, istri korban sempat menceritakan kasus sebenarnya soal penanganan atas suaminya yang dirawat selama 5 hari sejak Kamis, 03 Oktober hingga Senin, 07 Oktober 2019.
    Dalam ceritanya, ia menyampaikan bahwa sejak masuk perawatan di RSUD Bangil, dokter yang bertanggungjawab yakni dokter Vidya tidak berada di tempat, ia baru muncul pada tanggal 07 Oktober dimana sorenya suaminya meninggal dunia.
     "Jadi selama dirawat di RSUD Bangil,  suami saya belum pernah mendapat kunjungan dari dokter Vidya. Yang ada hanyalah para perawat. Ketika memberikan obat juga hanya via WA antara dokter Vidya dan perawat. Dia sama sekali tidak melihat kondisi suami saya, "ungkap iin, istri korban.
     Catatan berikutnya, setelah datang pada 07 Oktober, yang kemudian dokter Vidya ditemui oleh Joko Cahyono salah satu keluarga korban, terjadilah adu mulut karena menurut Joko, dokter Vidya menyampaikan informasi salah dan marah-marah, yang berlanjut pada saling bentak dengan lontaran kalimat bahwa dokter Vidya istri tentara yang menurut M. Jundi itu adalah reflek karena Joko gebrak meja, nuding dan bilang jancok serta bilang ia anggota dewan.
    Namun Joko yang secara gentel hadir dalam pertemuan dengan Komisi 4 DPRD itu menegaskan, sikap kerasnya juga reflek karena dokter Vidya saat ditanya kondisi pasien justru marah-marah.
     Dalam hal ini, Joko juga menyatakan sumpah bahwa ia tidak pernah memyampaikan dirimya anggota dewan.
     "Sumpah demi Allah, demi Rosulnya, saya tidak pernah mengatakan itu kepada dokter Vidya, justru ia yang marah-marah dan bilang ia istri tentara, "ucap Joko Cahyono. (Lis)

Menengok 'Raja-Raja' Kecil Di Sekretariat DPRD Kabupaten Pasuruan (1) #Siapa Paling Berkuasa, Pelayan Apa Yang Dilayani?

Lebel : DPRD Kabupaten Pasuruan
Kantor DPRD Kabupaten Pasuruan (Copy Foto by google)



Pasuruan, Pojok Kiri
     Jika kita memasuki lingkungan kantor DPRD Kabupaten Pasuruan yang terletak di Raci, Bangil, ada kesan bahwa gedung rakyat itu yang mendominir adalah para wakil rakyat yang difasilitasi ruang fraksi, ruang komisi dan ruang rapat.
     Setiap hari para wakil rakyat ini diladeni oleh sekretariat mulai dijaga kebersihan ruangan, diberi makan minum, kue ringan, termasuk makan siang atau jamuan makan khusus jika ada giat rapat tertentu.
     Lalu dengan pelayanan yang diberikan kepada anggota Dewan ini lantas menjadikan mereka sebagai raja? Tentu saja tidak. Sebab semua anggaran untuk penyediaan makanan, minuman, perawatan kantor dan lain-lain bukan anggota dewan yang mengatur. Mereka hanya menerima perlakuan pelayanan baik sesuai haknya, semuanya sudah terukur termasuk jika ada kunjugan dinas atau study banding ke luar kota. Anggaran perjalanan dinasnya semua sudah terukur sesuai aturan yang ditetapkan.
     Para anggota dewan ini pokok menerima saja. Ada kue dimakan, dikasih minuman kopi atau air putih ya diminum, ada nasi kotak atau nasi jenis lain entah darimana belinya dan berapa harganya mereka juga tidak tahu bahkan tak mau tahu. Pokok disediakan makanan ya dimakan, atau kalau kenyang ya ditaruh saja di atas meja.
     Jika ada yang mengatakan, bukankah kerja dewan diatur-atur sendiri? Pertanyaan itu benar adanya. Sebab semua kegiatan Dewan diagendakan melalui rapat oleh Badan Musyawarah (Bamus). Dimana mereka mengatur sendiri jadwal kegiatannya. Namun dalam hal ini dewan hanya mengatur jadwal saja, untuk penganggaran akan mengikuti yang semuanya dikelola oleh sekretariat.
     Catatan pentingnya, ketika anggota dewan menjdwal kegiatan, maka anggaran akan mengikuti, termasuk kebutuhan makan minum (mamin) dan sebagainya yang menunjang kegiatan tersebut.
     Dapat disimpulkan, dalam posisi ini anggota dewan hanya menjadwal dan menyampaikan kebutuhan demi menunjang kegiatannya. Misal mau kunjungan ke luar kota, maka butuh armada termasuk akomodasi di kota yang dituju itu, juga uang perjalanan dinas serta kebutuhan makan dan minum yang semuanya sudah dirinci nilainya.
     Siapa yang merinci kebutuhan anggarannya, selain pimpinan dewan yang memang harus tahu untuk rincian kebutuhannya, yang paling paham adalah sekretariat. Sebab sekretariat inilah yang akan mencarikan tempat istirahat anggota dewan di hotel mana, makan dimana dan sebagainya. Anggota dewan tahunya berangkat, dapat uang perjalanan dinas, menikmati hotel yang disediakan termasuk makan minum yang tinggal ambil tanpa tahu bahkan tak peduli berapa budget untuk kebutuhan itu.
    Ketika bicara soal kebutuhan keuangan, tentu ada bagian keuangan yang mengatur sirkulasi uang tersebut. Ketika bicara soal kebutuhan akomodasi, makan minum serta kebutuhan lain yang menunjang kegiatan dewan, tentu ada bagian umum yang menangani itu.
     Bagian-bagian inilah yang punya peran besar mengatur kuangan dalam kegiatan anggota dewan. Bagian-bagian ini yang tahu persis berapa nilai yang dibutuhkan, mulai makan minum, kebersihan kantor dewan, kebutuhan kegiatan dewan dalam kantor atau luar kantor, dalam kota atau luar kota, dan lain sebagainya.
     Lantas bagian-bagian yang masuk dalam sekretariat atau bahasa kasarnya pelayan dari para anggota dewan ini tidak lebih berkuasa dari anggota dewannya sendiri? Apakah dari semua kegiatan yang dijalankan dewan dengan anggaran yang dikeluarkan mereka hanya gigit jari? Tunggu edisi berikut. (Lis)

Sikapi Keras Kasus RSUD Bangil, Senin Depan DPRD Jadwalkan Panggil Manajemen

Lebel : RSUD Bangil
Andre Wahyudi

Pasuruan, Pojok Kiri
     Terkait dugaan kelalaian dan lelayanan buruk RSUD Bangil, DPRD Kabupaten Pasuruan melalui Komisi 4 sudah mengagendakan memanggil manajemen. Rencananya pemanggilan ini dilakukan pada hari Senin, 14 Oktober mendatang. Hal ini sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPRD, Andre Wahyudi, Kamis (10/10).
      Tujuan pemanggilan ini terang Andre, untuk melakukan klarifikasi atas kejadian dugaan kelalaian pihak dokter RSUD Bangil yang meninggalkan pasien sehingga berakibat pasien paru-paru bernama Eko BS mati.
     "Dari pembelajaran kasus seperti ini, ke depan jangan sampe terjadi lagi. Kami sudah koordinasi dengan komisi 4 untuk memanggil pihak manajemen rumah sakit. Jadwalnya sudah kami pastikan, Senin (14/10) pemanggilan kami lakukan, "kata Andre. (Lis)

Wadir Pelayanan RSUD Bangil Katakan Mister 'J' Yang Duluan Kasar Dan Sebut Dirinya Anggota Dewan, Joko Tuding Balik, Si Wadir Lakukan 1000 Persen Kebohongan

Lebel : RSUD Bangil
Joko Cahyono VS Dokter Jundi



Pasuruan, Pojok Kiri
     Polemik seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Joko Cahyono yang sempat menanyakan perkembangan kesehatan seorang pasien bernama Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen kepada seorang dokter RSUD Bangil bernama Vidya Eka Damayanti yang disambut sikap keras si dokter dengan menyebut tidak peduli anggota Dewan, tidak peduli LSM dengan menyebut ia istri tentara pada Senin (07/10) berbuntut panjang.
     Pihak RSUD Bangil melalui manajemen dalam giat konferensi pers, Kamis pagi (10/10) yang dihadiri M. Jundi, Wadir Pelayanan, Tri Siswati, Kepala Pengembangan, dan M. Hayat selaku humas bukannya meredam masalah dengan meminta maaf atas kejadian itu, mereka justru melontarkan bantahan dan sikap membela diri.
     Sebagaimana dikatakan M. Jundi, pihak yang memantik masalah itu adalah Joko sendiri yang disebutnya sebagai mister 'J'.
     Saat itu terang Jundi, mister 'J' menanyakan perkembangan pasien. Di tengah komunikasi itu terjadilah miskomunikasi yang kemudian suasana memanas dan mister 'J' menggebrak meja, menudingkan tangan dan bilang jancok sambil katakan dia anggota Dewan.
     "Jadi yang duluan kasar itu pihak 'J'. Karena mendengar lontaran 'J' anggota Dewan, dokter Vidya lalu reflek katakan jika ia tidak peduli anggota Dewan atau LSM sambil bilang ia istri tentara, "terang Jundi.
      Penjelasan yang disampaikan M. Jundi, Wadir Pelayanan RSUD Bangil tanpa ada dokter Vidya dalam konferensi pers tersebut dibantah keras oleh Joko Cahyono. Ketua Fraksi Nasdem yang juga menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan ini balik menuding M. Jundi melakukan seribu kebohongan.
     ""ini kebohongan ditutup dengan kebohongan. Jika dia bilang saat itu saya mengaku anggota Dewan, itu Jundi 1000 persen bohong. Tidak ada kata-kata seperti disampaikan itu. Saya bertanya dalam kapasitas keluarga pasien, sama sekali saya tidak menyebut anggota Dewan, "ujar Joko Cahyono.
     Lepas dari itu, Joko Cahyono mengaku tidak ada masalah pribadi yang ia bawa-bawa antara ia dengan dokter Vidya. Ia hanya menyesalkan masalah pelayanan di RSUD yang buruk, sehingga membuat pasien bukannya sembuh malah mati.
     "Esensinya, boleh gak dokter itu pergi meninggalkan pasien selama berhari-hari, "selorohnya. (Lis)

Besok LIRA Laporkan Dokter Dan Manajemen RSUD Bangil Ke Polres Pasuruan, Terkait Dugaan Lalai Akibatkan Pasien Maninggal Dunia

Lebel : RSUD Bangil
Pasien yang meninggal dunia dan petinggi LIRA, Prima

Pasuruan, Pojok Kiri
     Meninggalnya Eko BS (38) warga Desa Lumbang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan saat menjalani rawat inap di RSUD Bangil berbuntut panjang pasca seorang anggota keluarganya bernama Joko Cahyono yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan mendapat perlakuan buruk dari dokter yang disebut bernama dr. Widya Eka Damayanti.
     Lepas dari itu, meninggalnya pasien paru-paru Eko BS Senin sore (07/10) sekira pukul 17.00 WIB kini menjadi sorotan banyak pihak. Sebab dalam hal penanganan pasien diduga ada kelalian, karena sebagaimana fakta yang disampaikan Joko Cahyono, di hari meninggalnya Eko BS, dokter yang bertanggungjawab, yakni dr. Widya Eka Damayanti tidak melakukan pengecekan berkala pasien (visit) karena ditinggal menghadiri kegiatan di Surabaya.
     Kesan menerlantarkan pasien ini menjadi garis bawah adanya unsur lalai yang seolah disengaja. Oleh karenanya, LSM LIRA yang sejak awal menyoroti kasus ini, kini ancang-ancang untuk membawanya ke ranah hukum.
    Melalui Bendahara LIRA Jatim, Prima, rencananya Kamis (09/10) LIRA bersama LSM lain akan melaporkan dokter Widya Eka Damayanti dan manajemen RSUD Bangil ke Polres Pasuruan atas dugaan kelalaian yang berakibat pasien meninggal dunia.
     "Besok kami akan lapor ke Polres Pasuruan, intinya dalam kasus ini diduga ada unsur kelalaian yang berakibat matinya seseorang, jadi harus ada tanggungjawab hukumnya, "ucap Prima.
     Selain itu, pasca ke Polres, LIRA juga akan ke DPRD untuk menyampaikan laporan, yang intinya meminta DPRD membentuk Pansus terkait kasus RSUD Bangil ini.
     "Dari Polres kami akan ke DPRD, tujuannya mendesak DPRD untuk membentuk Pansus demi membahas kasus yang terjadi di RSUD Bangil, "ujarnya.
     Sayangnya, hinngga berita ini turun, Pojok Kiri belum berhasil mendapat konfirmasi dari pihak RSUD Bangil. Sang Plt Direktur, Agung Basuki sulit dihubungi, sedang M. Hayat, humasnya juga tidak respon saat berusaha ditelpon. (Lis)



KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas