RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Sejumlah Desa Di Kabupaten Pasuruan Alami Puncak Krisis Air, Air Umbulan Yang Melimpah Tampak Bagai Api Neraka!

Baca Juga

Ilustrasi (by google)

Pasuruan, Pojok Kiri
     Rabu (14/08) sekira pukul 11.00 WIB, Pojok Kiri sempat mendatangi kantor Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan di Raci guna mengkonfirmasi kondisi terakhir sejumlah desa di wilayah Lumbang, Winongan, Pasrepan, Puspo, Kejayan yang konon mengalami bencana kekeringan dan kekurangan air yang parah.
     Namun salah satu staf BPBD menginfokan bahwa Kepala BPBD, Bakti Djati Permana sedang tidak ada di tempat.
     Pojok Kiri lalu menghubungi Bakti melalui ponselnya. Oleh dia dijawab, bahwa ia sedang berada pegunungan kawasan Pananjakan perjalanan menuju Ngadas, Tosari untuk mencari sumber air baru. Sumber air yang dicari ini menurut dia untuk mendapatkan solusi guna mengatasi krisis air yang melanda sejumlah wilayah yang saat ini di puncak kekeringan.
     "Harapannya jika menemukan sumber air bisa dialirkan ke bawah. Tapi setelah kami cari, semua sumber air yang ada sudah digunakan oleh waga setempat karena debitmya juga kecil, "ungkap Bakti.
     Jawaban yang disampaikan Bakti dapat disimpulkan, upaya pencarian sumber air baru guna disalurkan ke bawah gagal.
     Selama ini, demi memenuhi kebutuhan air atas sejumlah desa kekeringan yang konon berjumlah 23 desa, pihak BPBD setiap hari harus menyalurkan air menggunakan armada tangki ke sejumlah titik terjangkau.
    Menurut Bakti, armada tangki yang pasti rutin melakukan pengiriman air ada 5, dengan rincian 2 milik BPBD, 1 dari Dinas Sosial, 1 dari Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, dan 1 dari PDAM. Sementara, armada lain yang membantu ada beberapa dari perusahaan, akan tetapi tidak setiap hari, dan jangkauannya terbatas.
    Terkait pengiriman rutin air setiap hari ini, ada catatan mengkhawatirkan yang disampaikan Bakti. Dimana jumlah armada yang sedikit harus diforsir mengirim air ke daerah ketinggian seperti kawasan Lumbang. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran, kendaraan akan tumbang di tengah jalan.
     "Yang kami khawatirkan itu, armada kami harus menjangkau daerah kekeringan yang lokasinya tinggi. Setiap hari kami kirim 2 tangki untuk satu titik. Jika kendaraan terus kami paksa naik tanpa istirahat, khawatirnya akan jebol. Itu sebabnya bantuan perusahaan tidak ada yang berani terus naik. Takut jebol. Makanya kami coba mencari sumber air baru dengan harapan menjadi solusi, "tukas Bakti.
     Sebenarnya menurut Bakti, ada solusi yang bisa dilakukan Pemkab Pasuruan untuk mengatasi kekeringan di sejumlah desa ini, yakni dengan memompa air umbulan yang sangat melimpah untuk disalurkan ke atas. Akan tetapi solusi itu masih menjadi mimpi yang tak terwujud, karena rencana besar memompa air ke atas pasca berjalannya proyek spam umbulan ternyata gagal total.
     "Solusi terbaik memang memompa air umbulan ke atas itu, tapi kan proyeknya gagal, "ucap Bakti.
     Memang, dalam mega proyek umbulan yang diresmikan Juyuf Kala pada 20 Juli 2017 lalu itu sempat menjadi harapan warga yang selama ini desanya mengalami kekeringan. Nyatanya, hingga saat ini, warga hanya disuguhi pemandangan pipa pipa besar yang mengarah ke arah Surabaya yang nantinya membawa air umbulan untuk kesejahteraan warga daerah lain.
    Warga lokal Kabupaten Pasuruan sendiri hingga kini hanya bisa gigit jari dan mengalami sengsara dengan kekeringan yang dihadapi. Pepatah ayam mati di lumbung padi benar-benar terjadi. Sumber air umbulan yang melimpah nyatanya bak api neraka yang justru memanaskan hati mereka. (Lis)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas