RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Kades Pelintahan Sanusi Dijebloskan Ke Dalam Penjara

Baca Juga

Sanusi saat digelandang menuju Rutan Bangil



Pasuruan, Pojok Kiri
     Kepala Desa Pelintahan, Kecamatan Pandaan, Sanusi akhirnya dijebloskan ke dalam penjara, Rabu (24/07). Ia digelandang menuju rumah tahanan (Rutan) Bangil sekira pukul 13.45 WIB oleh petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Pasuruan dengan menggunakan mobil tahanan jenis elf.
     Saat dibawa oleh petugas menuju mobil tahanan, Sanusi tampak pasrah. Bahkan ia memperlihatkan wajah ramah dan tersenyum.
     "Pasrah saja, biar saya pernah tidur di tahanan, "ucap Sanusi lirih.
     Sebelum diantar ke Rutan Bangil, Sanusi datang ke kantor kejaksaan sekira pukul 10.00 WIB. Ia didampingi Dua pengacara, masing-masing Kukuh dan Haris.
     Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Pasuruan, Normadi didampingi Kasubsi Eksekusi, Themas mengatakan, kedatangan Sanusi ke kejaksaan memenuhi panggilan ke 3 yang dikirim jaksa.
    "Sebelumnya, Dua panggilan yang kami kirim ia tidak datang, setelah kami tanya alasannya sakit. Ini panggilan ke Tiga. Dan dia kooperatif datang tanpa paksaan, "kata Normadi.
     Seperti diketahui, dalam sidang putusan PN Bangil pada 11 Maret 2019, Sanusi diputus 3 bulan kurungan, dan denda Rp. 3 juta, subsidair 1 bulan kurungan. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut Sanusi 5 bulan kurungan dan denda Rp. 4 juta, subsidair 2 bulan kurungan.
Sanusi dikawal petugas

     Atas putusan ini, Sanusi menempuh langkah Banding. Pada 19 Maret atau selang 10 hari pasca putusan, pihak Sanusi mengirimkan memori banding guna melakukan perlawanan karena tidak terima dengan putusan tersebut. Namun upaya bandingnya bukan meringankan nasibnya, tetapi tetap memasukkan dia ke dalam penjara, karena putusan pengadilan tinggi justru menguatkan putusan PN Bangil.
     Penguatan putusan itu tertuang dalam relaas pemberitahuan petikan putusan banding Nomor 352/PID/2019/PT SBY jo Nomor 19/Pid.B/2019/PN Bil.
     Atas Pengadilan Tinggi ini, sebagaimana informasi JPU Themas, Sanusi sempat mengajukan kasasi. Akan tetapi karena pasal yang dikenakan hukuman maksimalnya hanya 1 tahun, maka kasasi ditolak demi hukum.
     Perlu diingat kembali, putusan penjara atas Kades Sanusi ini bermula adanya pembangunan pasar wisata yang ada di Desa Pelintahan. Dimana pembangunan pasar itu menempati tanah kas desa. Dalam proses pembangunannya, desa melakukan MoU dengan dua PT yang bertindak sebagai investor atau pengembang. Dalam perjalanannya, sebagian warga mulai bergejolak setelah pembangunan pasar yang menempati tanah kas desa itu ternyata diperjual belikan kel pihak luar, bukan ke warga setempat,
     Gejolak itu menguat hingga sebagian warga menunjuk Daniel sebagai kuasa untuk meminta berkas MoU antara desa dengan dua PT tersebut. Namun menurut Daniel saat itu, ia yang meminta melalui Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokimentasi (PPID) yang ada di Desa Pelintahan tidak diberi hingga waktu 10 hari sebagaimana diatur dalam UU KIP.
     "Karena melalui PPID tidak dikasih, kami lalu meminta ke atasannya, yakni Kades. Hingga waktu 30 hari seperti yang ditentukan, oleh Kades permintaan kami tetap tidak diindahkan. Setelah itu kami lalu mengajukan permohonan sengketa Informasi ke Komosi Informasi Publik (KIP) Jatim, "kata Daniel kala itu.
     Di tingkat KIP Jatim, saat proses berjalan, Sanusi tak pernah hadir. Endingnya, Sanusi dinyatakan bersalah.
    Dengan dasar putusan KIP itu, Daniel lalu melaporkan Sanusi ke Polda Jatim.
     Laporan ditindaklanjuti oleh Polda Jatim dan dilimpahkan ke Polres Pasuruan. Sekian lama diproses lidik lalu lanjut ke penyidikan dan naik ke persidangan, endingnya Sanusi dinyatakan telah melawan hukum dan divonis masuk penjara. (Lis)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas