RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Gila!!! Lampu Hanya Segelintir, Masing-Masing Kios Di Plaza Gempol Harus Bayar Bulanan Listrik Hingga Rp. 600 Ribu

Baca Juga

Bukti bayar bulanan listrik di kios Plaza Gempol

Pasuruan, Pojok Kiri
     Plaza Gempol yang dulunya dikenal dengan pasar Gempol hingga kini belum ada geliat perokonomian yang berarti. Plaza yang dibangun dengan dana bermilyar-milyar itu nyatanya hingga saat ini ibarat kuburan yang hanya ramai saat ada orang ziarah saja. Selebihnya selalu sepi.
     Namun demikian, meski kondisi plaza sepi, pedagang yang menempati kios-kios tetap bertahan dengan harapan ada keajaiban yang membuat Plaza Gempol menjadi ramai bak tunjungan plaza Surabaya.
     Sampai kapan itu, entahlah, yang penting bertahan daripada tidak ditempati, nanti malah ditempati setan untuk ngerumpi.
     Akan tetapi, ada hal miris yang terjadi. Sepinya pengunjung di Plaza Gempol tak membuat pengeluaran pedagang ikut sepi. Kantong mereka harus terus terkuras untuk membayar biaya ini itu, salah satunya membayar biaya bulanan listrik yang nilainya sangat fantastis.
    Ya, para pedagang yang menempati kios-kios di Plaza Gempol memang harus membiayai sendiri listrik yang dipakai. Di masing-masing kios sudah terpasang Kilo Watt Hour (KWH) meter atau meter listrik.
    Masing-masing KWH Meter itu punya daya 900 Watt dengan pemasangan atau penggunaan lampu dan kebutuhan lain yang minim.
    Dengan demikian, harusnya untuk bayar bulanannya juga minim. Sebab di rumah normal saja, pembayaran listrik dengan penggunaan maksimal, ada kulkas, pompa air, TV yang tanpa henti, setrika dan lain-lain, sebulan paling besar antara Rp 200 hingga 350 ribu.
     Lalu berapa pembayaran listrik masing-masing kios di Plaza Gempol dalam sebulannya?
     Fantastis, meski hanya sebuah kios dengan penggunaan listrik yang minim,  masing masing kios harus bayar listrik tiap bulan antara Rp. 480 ribu hingga 650 ribuan.
     Ada catatan pembayaran listrik yang diterima Pojok Kiri. Di catatan yang bertuliskan tangan itu tertera angka-angka pembayaran dengan nominal cukup besar.
     Pojok Kiri yang menelusuri catatan itu ke para pedagang justru mendapat fakta ada ketakutan saat ditanya.
    "Jangan tanya itu mas, kami tidak berani bicara, soalnya sudah ada kesepakatan, "kata beberapa pedagang tanpa mau disebut nama.
     Ada apa ini? Siapa yang bermain? Pojok Kiri yang mengkonfirmasi hal ini ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasusuruan, Rabu (26/06) justru mendapatkan reaksi terkejut dari sang Kadis, Edy Suwanto.
     Menurut Edy, biaya bayar listrik untuk kios sebesar itu sangat tidak wajar.
     "Untuk biaya bayar listrik bulanan, masing-masing kios memang bayar sendiri, tetapi dengan pemakaian yang minim, paling antara 30 hingga 50 ribu saja. Untuk fasilitas umum, Dinas yang bayar. Kalau bayarnya sampai ratusan ribu begitu, jelas tidak wajar. Nanti kami akan telusuri siapa yang bermain dengan memanfaatkan biaya listrik, "tukad Edy. (Lis)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas