RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

'Pahlawan Pemilu', Andai Mereka Masih Hidup, Mereka Pasti Marah Dengan Politisasi Yang Menimpanya

Baca Juga

Pahlawan Pemilu (Ilustrasi By Google)



Pasuruan, Pojok Kiri
     Hingga 11 Mei 2019 lalu, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pasuruan mencatat sebanyak 5 orang petugas Pemilu di Kabupaten Pasuruan yang meninggal dunia selama proses penyelenggaraan.
     Mereka adalah Ita Mutmainah (43) anggota KPPS di TPS 01 Desa Pucangsari Kecamatan Purwosari, Tasum (55) petugas Linmas dari TPS 20, asal Desa Sekarmojo Kecamatan Purwosari, Busai (62), petugas KPPS TPS 05 Dusun Pejaten, Desa Wotgalih, Nguling, Sudarmaji (61), anggota KPPS, TPS 18 asal Pogar, Bangil, dan Fatkhul Mubin (53), Petugas Linmas di TPS Arjosari, Rejoso.
     Sementara itu, selama penyelenggaraan Pemilu di Kabupaten Pasuruan, Juga ada 35 petugas lain yang mengalami sakit karena beratnya tugas yang harus diemban. Sedang di seluruh Indonesia, jumlah yang meninggal dunia mencapai 500 lebih.
     Pasca meninggalnya mereka, ada isu menyeruak yang mengakatan bahwa kematian para petugas Pemilu ini akibat diracun. Cerita-cerita sadis dan mengerikan diramu oleh oknum tertentu untuk membuat situasi pilitik menjadi gaduh.
    Sejauh ini pemerintah melalui kementerian kesehatan dan kepolisian sudah bergerak untuk menampik isu tersebut dengan membeberkan bukti dari sìsi dunia medis bahwa tidak ditemukan racun apapun dalam tubuh para petugas yang meninggal dunia.
     Demikian juga di Kabupaten Pasuruan, 5 petugas yang meninggal dunia dinyatakan murni meninggal dunia karena fisik yang kelelahan. Faktor ketahanan fisik yang tidak mampu menahan beban tugas yang sangat berat saat menjalankan penyelenggaraan Pemilu.
     Salah satu pahlawan Pemilu yang rumahnya sempat didatangi Pojok Kiri adalah Tasum, anggota Linmas Pam TPS 20, warga Desa Sekarmojo Kecamatan Purwosari.
    Sebagaimana diceritakan keluarga korban dan Kades Sekarmojo, Kunto Dewo, pada Kamis,18 april 2019 pukul 09.00 WIB, Almarhum Tasum akan melaksanakan pengawalan kotak suara Pemilu dari kantor desa Sekarmojo menuju PPK Kecamatan Purwosari. Akan tetapi oleh Kades Kunto Dewo tidak diperbolehkan, karena sang Kades melihat kesehatanya Tasum sudah menurun.
     "Saat itu saya menyuruh Pak Tasum untuk pulang agar istirahat, karena terlihat kelelahan, "ungkap Kades Kunto Dewo.
    Kemudian lanjut Kunto Dewo, pada Minggu, 21 April 2019 sekira pukul 07.00 WIB, Tasum akan berangkat ke sawah untuk melihat sawahnya yang berada di dekat rumahnya. Pada saat berjalan menujuh sawah, Tasum tiba-tiba pingsan, yang saat itu diketahui oleh tetangganya.
      'Setelah kejadian itu, pak Tasum di antar ke rumahnya, lalu dibawa oleh keluarganya ke RSUD Lawang dan di rawat di Rumah sakit selama Satu hari, "terang Kunto Dewo.
     Hari Senin, 22 April 2019 sekira pukul 18.20 WIB, kenang Kunto Dewo, Tasum dinyatakan meninggal dunia oleh Dokter Tamara FA selaku Dokter RSUD Lawang. Lalu pada Selasa, 23 April 2019 Pukul 09.00 WIB, jenazah Tasum dimakamkan di makam umum Dusun Mojo, Desa Sekarmojo, Purwosari.
     Kades Kunto Dewo juga meneruskan pesan keluarga, bahwa pihak keluarga menolak keras jika ada pihak ygang akan melakukan otopsi terhadap jenasah almarhum.
     Cerita salah satu petugas yang meninggal dunia ini sedikit menjadi catatan, bahwa faktor kesehatan yang menurun adalah penyebab meninggalnya masyarakat yang kebetulan mengemban tugas menjadi petugas Pemilu. Hal ini diungkapkan oleh salah satu Kokisioner KPU Kabupaten Pasuruan Winaryo Sudjoko, Jum'at (17/05).
     "Pekerjaan para petugas Pemilu sangat berat, khususnya pada hari H. Bayangkan saja, sekitar jam 6 pagi harus sudah berada di TPS untuk persiapan, karena rapat pemungutan suara dimulai jam 7. Lalu mereka harus menulis daftar hadir, menandatangani surat suara sebanyak yang hadir (5 x surat suara : Ketua KPPS), mencatat hasil, memilah dengan masing-masing daerah pemilihan, dan pekerjaan lain yang sangat banyak, mulai proses pencoblosan hingga penghitungan, lalu surat suara dirapikan dan untuk dikirim kembali ke tingkat PPS/PPK. Yang punya keluarga harus bangun lebih awal padahal sebelumnya kurang tidur, untuk menyiapkan kebutuhan keluarga, terutama untuk KPPS perempuan, yang kerja pastinya harus Iibur sebelumnya untuk menyiapkan hari penting itu. Jika dilihat memang seperti bisasa saja, tapi jika dilaksanakan sangat berat. Saya sendiri saja untuk melakukan tanda tangan sampai memakan waktu 3 jam tanpa henti. Jadi benar-benar lelah, "ungkap Winaryo.
     Keluarga para alrmarhum/almarhmah sendiri lanjut Winaryo telah memahami dan menerima fakta ini.
     "Jika ada yang mengatakan mereka meninggal karena diracun, itu sungguh keji. Saya yakin para pahlawan Pemilu ini akan marah jika mereka tahu dirinya dijadikan alat politisasi, "ujar Winaryo. (Lis)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas