Musim Hujan Gagalkan Panen Mangga Di Rembang, Kabupaten Pasuruan, Petani Merugi Jutaan Rupiah

Baca Juga

Contoh kondisi buah mangga yang pecah



Pasuruan, Pojok Kiri
     Awal Mei 2019 ini mangga di Kabupaten Pasuruan, khususnya mangga Rembang yang terkenal dengan mangga klonal 21 atau mangga alpukat harusnya bisa dipanen perdana dalam program teknologi pertanian pem-bunga-an awal atau disebut Early Flowering Technology (EFT).
    Namun, pasca panen raya mangga Desember 2018 lalu, proses EFT yang memaksa mangga bisa berbuah dengan cepat dalam kurun waktu 4 bulan digagalkan oleh kondisi alam yang berada dalam musim hujan.
     Riyan salah satu petani mangga asal Oro-Oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan yang juga seorang pedagang mangga kepada Pojok Kiri, Minggu (12/05) mengatakan, harusnya saat ini ia dan petani lain bisa memanen mangga dalam program EFT tersebut. Akan tetapi, mereka harus gigit jari, karena mangga alpukat yang jadi andalan petani Rembang tidak bisa didapat saat ini.
     "Kondisi mangga rusak akibat hujan, buah mangga yang mulai membesar mengalami pecah dan busuk, lalu rontok karena tekanan air hujan. Jadinya seluruh petani tidak bisa menikmati panen mangga pada bulan Mei ini, "papar Riyan.
     Gagalnya panen mangga proses EFT ini tentu saja merugikan para petani. Bayangkan saja, untuk melakukan program percepatan buah (EFT), dalam hitungan 200 batang mangga, petani harus mengeluarkan dana sekitar Rp. 6 juta.
    "Karena panen gagal, otomatis modal tidak balik, terpaksa kita memprogram lagi untuk panen Agustus mendatang, "ujar Ryan.
     Program percepatan pembuahan ini memang cukup mampu membuat petani di Kabupaten Pasuruan meraup untung besar. Sebab progam pembuahan yang mampu memaksa pohon berbuah dalam kurun waktu 4 bulan sekali ini, harga jual mangga juga dipatok tinggi dengan kisaran Rp 30 hingga 35 ribu perkilonya
    Namun gagalnya panen pada Mei 2019 ini tentu saja membuat petani hanya bisa menghela nafas panjang. Harapan untuk meraup untung pas lebaran Idul Fitri yang diterima hanya kesedihan.
     "Jika musim hujan terus terjadi, tentu saja program percepatan pembuahan tak lagi bisa kita harapkan. Satu-satunya harapan kami adalah panen raya yang jatuh pada bulan Desember mendatang. Akan tetapi saat itu keuntungan yang kami dapat tentu tidak maksimal, karena saat panen raya, harga mangga pasti murah, "ungkap Riyan. (Lis)

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas