RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Melalui Progam ODHA LINK, RSUD Bangil Yakinkan Pengidap HIV/AIDS Bisa Hidup Normal

Baca Juga

Dokter Darmi Sapti Kurniawati

Pasuruan, Pojok Kiri
     Di Kabupaten Pasuruan, semakin hari jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS bukan semain berkurang, tetapi semakin meningkat. Hal ini salah satunya terlihat dari fakta yang selalu muncul, dimana tatkala tim penegak Perda menangkapi para pekerja sexs komersial, ada saja dari mereka yang mengidap HIV/AIDS setelah dilakukan pemeriksaan medis.
     Ada literasi yang mencatat, bahwa sejak tahun 1993 hingga 2018, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pasuruan mencapai 1767 kasus. Angka itu tiap tahunnya terus meningkat seiring perilaku masyarakat yang terkesan tak peduli terhadap betapa bahayanya penyakit yang belum ada obatnya ini.
     Upaya pencegahan atas penyebaran penyakit HIV/AIDS ini memang tidak berhenti. Intansi terkait yang terus berupaya diantaranya adalah Dinas Kesehatan dan Dinas Pemuda Dan Olahraga memalui Bidang Kepemudaan dengan jargon stop pencegahan HIV/AIDS agar masyarakat menjauhi sexs bebas gonta ganti pasangan, narkoba dan sebagainya.
    Namun bagi warga yang sudah terlanjur mengidap penyakit yang dianggap mengerikan ini, tentu hanya penyesalan yang ada di dirinya. Mental menjadi drop, stres, karena menganggap harapan hidup sudah tidak ada, mengingat HIV/AIDS belum ditemukan obat untuk membunuh virusnya.
     Dalam posisi ini, RSUD Bangil memiliki peran kuat untuk memberikan semangat hidup terhadap pengidap HIV/AIDS melalui program layanan Orang Dengan HIV/AIDS atau dikenal dengan ODHA LINK.
     Adalah Darmi Sapti Kurniawati seorang dokter di RSUD Bangil yang sejak 2012 dipercaya untuk melakukanTes HIV atau juga sering disebut dengan Voluntary Counseling and Testing (VCT), sekaligus memberikan layanan Care Support And Treatment (CST), yakni sebuah layanan perawatan, dukungan dan pengobatan untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) setelah didiagnosis positif.
     Kepada Pojok Kiri, Kamis (23/05), dalam melayani ODHA ini, ia mengaku harus telaten karena pasien dengan HIV/AIDS kebanyakan tidak memiliki motivasi untuk bertahan hidup.
     "Apalagi masyarakat masih memandang penyakit HIV/AIDS itu sangat buruk dan memalukan, sehingga banyak pengidapnya merasa tak punya harga diri, merasa dikucilkan, yang membuat semangat hidup mereka hilang. Sikap putus asa seperti ini menjadi tugas kami untuk memberikan motivasi dan pemahaman, bahwa pengidap HIV/AIDS masih punya kesempatan hidup layak, "ujar Darmi panggilan akrabnya.
     Menurut Darmi, tingkat keputus asaan pengidap HIV/AIDS ini sangat kuat. Sehingga rasa frustasi dan marah membuat sebagian dari mereka ada yang ingin melampiaskan frustasinya dengan menulari orang lain dengan tujuan mencari teman untuk mati.
     "Hal ini salah satu yang kami cegah dengan memberikan penyadaran melalui pendekatan kemanusiaan. Meski tak mudah, pelan tapi pasti banyak ODHA yang menjadi sadar. Mereka yang semula frustasi karena menganggap umurnya tak akan lama, akhirnya mau berjuang untuk sehat kembali, "ungkap Darmi.
     Darmi menambahkan, meski tak bisa sembuh total, HIV/AIDS itu ada obatnya.
     "Kerja obat yang ada saat ini untuk membendung virusnya tumbuh. Untuk Itu kami terus melakukan penyadaran kepada mereka agar tetap mau minum obat dan tetap memberikan motivasi untuk menjalani keseharian secara normal, "pungkas dokter Darmi Sapti Kurniawati. (Lis)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas