RUNNING NEWS :
Loading...
Cari Kami di Google

Senyum Merekah Rakyat Kecil, Ada Pesta "Angpao" Jelang Pencoblosan

Baca Juga

Foto: Ilustrasi (By google)

Oleh: POJOK KIRI BIRO PASURUAN
     'Dilarang money politik', pada pesta demokrasi seperti sekarang ini, jargon larangan money politik alias politik uang, alias dum-dum angpao ke masyarakat tepatnya kepada warga selalu dikumandangkan. Resikonya jika itu dilakukan, pihak yang mengawasi pesta entah apa namanya akan bergerak mempermasalahkan secara hukum.
     Pertanyaannya, akankah pihak pengawas mempelototi tiap gerakan orang-orang yang terlibat dalam pesta ini. Akankah pihak pengawas memasang mata di setiap pintu rumah? Jika dijawab iya, pasti itu ngibul alias mimpi.
     Abaikan soal pengawas yang akan mencari bukti adanya politik uang alias angpao. Mari kita melihat ke realita yang terjadi di warga bawah menjelang waktu pencoblosan seperti sekarang ini, khususnya tentang Calon legislatif alias Caleg.
     "Hore... ada pesta..., "suara dan senyuman merekah muncul di wajah-wajah warga bawah yang kebanyakan senang saat ada partai atau calon legislatif (Caleg) memberi uang.
     Meski nilainya tak seberapa, hanya berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp. 50 ribu saja perorang, tetapi warga senang karena merasa dianggap oleh yang memberi.
     "Kalau dikasih uang ya nyoblos, "suara ini bukan suara orang munafik. Tentunya wajar dan manusiawi, sebab mereka yang mencalonkan diri khususnya menjadi Caleg adalah orang yang "mencari pekerjaan", yang tentunya harus modal, Sebab selain gaji dan tunjangannya lumayan besar. Gengsinya sebagai pejabat juga besar.
     Jika ada Caleg yang bilang, tulus ingin mengabdi sebagai wakil rakyat, akan membela rakyat, berjuang demi rakyat, pastinya tukang becak juga mau jika tidak harus berebut suara dengan modal yang sangat besar.
     Lepas dari itu, Kampanye sudah dihentikan, saat ini sudah masuk hari tenang. Namun di kalangan tim bawah yang langsung bersentuhan dengan warga, ada gerakan dor to dor bak hari raya idul fitri, dimana Caleg atau utusan Caleg mendatangi rumah-rumah warga sambil membagi angpao yang diiringi pesan "jangan lupa nanti coblos kikuk kikuk".
     Ada istilah keren pada saat jelang pencoblosan ini. Namanya sangat mengerikan, yakni time for 'eksekusi'.
     Istilah ini dimaksud sudah tidak butuh lagi koar-koar di media, baik cetak maupun elektronik, termasuk medsos.Tetapi sudah langsung dor to dor ke rumah warga sambil pura-pura tersenyum sembari berbagi angpao dengan harapan mendapat dukungan.
     Soal apakah nanti warga yang dikasih angpao pasti mencoblos nama yang disodorkan, itu tinggal Calegnya saja agar berdo'a lebih kuat minta ke yang maha kuasa. Sebab yang dor to dor ke rumah warga tidak satu partai atau Caleg. Jumlahnya banyak. Tentu yang menerima angpao juga bingung harus nyoblos yang mana.
     Menghadapi hal ini, warga akhirnya pakai jurus andalan, yakni nyoblos yang ngasih duit lebih banyak (hrrrrr....).
     Namun ada juga warga yang idealis. Mereka tidak mau menerima uang dari orang yang tidak dikenal atau pasti tidak dicoblos. Alasannya adalah dosa.
     "Sama saja kita membohongi orang, itu dosa, "kata orang idealis itu.
      Nah dalam pesta angpao ini, ada catatan dari seorang politisi kawakan yang juga mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di Kabupaten Pasuruan. Untuk Caleg pemula atau belum pernah jadi caleg, butuh uang minimal Rp. 1 milyar untuk bisa jadi, sedang bagi incumben yang sudah punya basis masa dan sudah memupuk sejak lama. Biayanya tak butuh sebanyak itu. (*)

KRIMINAL
PEMERINTAHAN
BIROKRASI
HUKUM
WISATA
SENI
BUDAYA

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas