Fenomena Kepsek SMKN Di Kabupaten Pasuruan Yang Beruntung Dan 'Buntung' (1) #Satu Dapat Tempat Enak, Yang Satu Dipensiun Dini

Baca Juga

Mantan Kepsek SMKN 1 Tutur, Sentot Nuriyanto Dan Kepsek SMKN 1 Purwosari, Syaifudin

Pasuruan, Pojok Kiri
      Mutasi Kepala Sekolah (Kepsek) jenjang SMAN/SMKN/SLBN di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim) kini sudah berumur hampir 3 bulan sejak dilaksanakan pada 29 Desember 2018 lalu. Namun bisik-bisik minor hasil mutasi termasuk yang terjadi di Kabupaten Pasuruan hingga kini masih nyaring, bahkan nadanya semakin keras terdengar. Terkait apakah?
      Adalah Dua orang Kepala Sekolah (Kepsek) yang saat ini masih terus menjadi perbincangan. Dua Kepsek ini cukup fenomenal karena dalam kondisi sama, yakni sama-sama dalam kondisi sakit secara fisik, namun nasibnya berbeda.
      Kepsek yang pertama adalah Syaifudin. Mantan Kepsek SMKN 1 Beji ini mengalami sakit fisik saat masih menjabat sebagai Kepsek di SMKN 1 Beji. Namun pada mutasi 29 Desember itu, ia justru mendapat keberuntungan menempati jabatan Kepsek di SMKN terfavorit, yakni SMKN 1 Purwosari.
      Sementara itu, Kepsek yang lain adalah Sentot Nuriyanto. Pria kelahiran tahun 1963 yang sebelumnya menjabat Kepsek SMKN 1 Tutur ini dinyatakan sudah tidak layak lagi menjadi Aparatur Sipil Negera (ASN) dengan alasan sakit, padahal sakitnya sama seperti dialami Syaifudin. Sentot pada mutasi 29 Desember 2018 lalu "diberhentikan" sebagai Kepsek, termasuk 'disuruh' pansiun dini dari ASN. Kenapa ada pembedaan?
     Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Provinsi Jatim wilayah Kabupaten Dan Kota Pasuruan, Indah Yudiani kepada Pojok Kiri, Senin (18/03) berdalih. Untuk Sentot dan Syaifudin ini sudah melalui pemeriksaan dokter. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan itu, keduanya dinyatakan berbeda.
     "Untuk pak Sentot, dari hasil pemeriksaan dokter sudah dinyatakan tidak layak jika tetap memegang jabatan Kepsek termasuk menyandang ASN. Tapi untuk pak Syaifudin, hasilnya beda, ia masih layak, "ujar Indah Yudiani.
     "Memang pak Syaifudin itu kalau ke sekolah pakai kursi roda. Tapi kalau di rumahnya ia bisa jalan pakai penyangga kaki empat. Dengan kondisi sekolah yang medannya turun naik, sekarang sakitnya malah membaik, "imbuh Indah.
     Syah-syah saja seorang Kacabdis membela orang yang disukai dalam hal pekerjaan. Namun apakah keberadaan Syaifudin benar-benar diterima di kalangan guru dan staf SMKN 1 Purwosari? (Lis-bersambung)

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas