Guru Sendiri Sebagai Provokator Di Demo Siswa SMKN 1 Rembang? #Mereka Terancam Dipidanakan

Baca Juga

Tulisan-tulisan yang terpampang saat demo

Pasuruan, Pojok Kiri
    Aksi demontrasi siswa siswi SMKN 1 Rembang yang mendesak sang Kepala Sekolah (Kepsek), Samsuri untuk mundur, Kamis (11/10) diduga bukan murni aspirasi siswa siswi. Hal ini terungkap setelah Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Pasuruan, Indah Yudiani datang ke SMKN 1 Rembang untuk mencari tahu penyebabnya di hari itu juga (11/10) sekira pukul 14.00 WIB.
     Indah Yudiani kepada Pojok Kiri, Jum'at (12/10) menuturkan, saat kedatangannya ke SMKN 1 Rembang sore itu, ia mengumpulkan semua guru termasuk Kepala Sekolah Samsuri untuk diajak bicara.
   "Waktu itu saya berikan kesempatan kepada semua guru untuk menyampaikan apa saja yang ada di pikiran mereka. Lalu muncullah 3 orang yang akhirnya angkat bicara, masing-masing Mustofa, kemudian guru olahraga yang namanya saya lupa dan satunya perempuan guru Bahasa Indonesia, "ucap Indah Yudiani.
Tulisan-tulisan yang terpampang saat demo

    Lebih jauh terang Indah, dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Komite Sekolah, Camat, Danramil, Kapolsek, serta tokoh agama setempat itu terungkap bahwa masalah utama dari munculnya demo itu bukan dari siswa siswinya.
    "Dari pembicaraan dalam pertemuan itu muncul titik terang. Jadi selama ini memang ada komunikasi yang kurang bagus antara para guru dan Kepala Sekolah. Intinya, para guru ini tidak pernah diajak bicara oleh Kepala Sekolah jika ada kegiatan atau hal apapun. Padahal mereka ini sudah senior. Selama ini yang terjadi, Kepala Sekolah bersama orangnya sendiri selalu memutuskan sesuatu sendiri dan dijalankan sendiri. Akhirnya, hal yang terus-terusan terjadi ini memicu emosi mereka dan menjadikan siswa siswi sebagai alat untuk melakukan demo untuk mendesak Kepsek mundur dengan dalih macam-macam "terang Indah.
     Lepas dari itu, demo yang dilakukan para siswa siswi SMKN 1 Rembang ini justru menjadi bola panas di luar sekolah. Hal ini terjadi lantaran pamflet atau tulisan-tulisan kertas yang dibawa oleh siswa siswi jauh dari kalimat-kalimat pantas yang harusnya disuarakan oleh anak usia sekolah.
    Beberapa kertas yang juga dicurigai dibuat secara seragam dan ada yang mengkoordinir itu diantaranya bertuliskan "Harga SPP-ku lebih mahal dari harga purelku", kemudian 'harga vila Songgoriti lebih murah dari harga SPP' dan sebagainya.
Tulisan-tulisan yang terpampang saat demo

    Tulisan-tulisan itu memicu pro kontra di luar sekolah. Gus Amin misalnya, salah satu tokoh masyarakat Rembang ini mengaku prihatin dengan apa yang dilakukan siswa siswi. Menurutnya sangat tidak pantas tulisan-tulisan tak senonoh itu muncul di demo siswa.
     "Terlepas dari persoalan apapun, munculnya tulisan-tulisan tak senonoh itu harus diusut. Siapa dalangnya harus diproses secara hukum, "ujar Gus Amin.
     Hal senada juga disampaikan Daniel dari Komnas Perlindungan Anak Pasuruan. Pembela anak ini melihat ada gejala penjerumusan pola pikir anak oleh oknum tertentu di SMKN 1 Rembang itu.
     "Kasus seperti ini tidak bisa didiamkan, sebab jika dibiarkan, pola pikir anak akan terus dirusak oleh orang-orang tak bertanggungjawab entah itu guru sendiri atau orang luar. Jadi kami dari Komnas Perlindungan Anak akan melakukan langkah investigasi, siapa pembuat tulisan itu, siapa yang mengkoordinir, kita akan bawa ke ranah hukum, "ucapnya. (Lis)


    
   

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas