TERKINI

Dapil 1 Disebut Sebagai Dapil Neraka, Ini Kata Mbak Nik, Caleg Golkar DPRD Kabupaten Pasuruan

Mbak Nik

Pasuruan, Pojok Kiri
      Banyaknya tokoh kuat yang maju menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan di Daerah Pemilihan (Dapil) 1 yang meliputi Bangil, Beji dan Gempol membuat Dapil ini disebut sebagai Dapil Neraka.
     Sebutan ini memang pantas disematkan, karena dari para calon itu, ada sejumlah nama incumben yang maju. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah nama-nama kuat yang berpotensi kembali duduk di kursi DPRD, seperti Caleg Golkar Nik Sugiharti, Samsul Hidayat PKB, H. Elyas Gerindra, Abdul Rouf PKB, Arifin PDI-P, Dan Sutar PDI-P, Rusdi Sutejo Gerindra, dan H. Salamah Nasdem.
     Nama-nama yang saat ini masih menjabat menjadi anggota DPRD tersebut dari sisi hitung-hitungan kekuatan tak bisa dianggap enteng, karena sudah pasti punya basis masa dan strategi yang kuat, meski diantara mereka bisa saja tumbang jika strateginya salah.
     Kuatnya kemungkinan gesekan antar incumben inilah yang membuat Dapil 1 dianggap sebagai Dapil Neraka.
     Namun pandangan berbeda justru dilontarkan Nik Sugiharti, Caleg Dapil 1 Dari Partai Golkar yang juga incumben. Wanita kalem yang karib disapa Mbak Nik ini justru menganggap kuatnya persaingan di Dapil Neraka justru dianggap sebagai Dapil Sorga. Sebab menurut dia, ketatnya persaingan di Dapil 1 ini justru membuat internal Caleg Golkar semakin menguat dan semakin bersatu untuk membawa Golkar mampu meraih kursi sesuai yang ditargetkan.
    "Ada 9 Caleg Golkar di Dapil 1, semua bergerak untuk mendulang suara demi menegakkan nama Golkar, bukan demi individu. Inilah kenapa saya bilang Dapil 1 Dapil sorga. Ketatnya persaingan justru membuat kita lebih bersatu, "ujarnya.
      Disoal adakah kemungkinan saling jegal antar Caleg di partainya, khususnya Dapil 1. Nik Sugiharti menyebut jika di Partai di Partai Golkar tidak ada hal itu.
     "Kita semua rukun dan sepakat menegakkan nama partai, jadi tidak ada saling jegal. Kita satu suara demi Golkar, bukan demi Individu, "tukasnya. (Lis)

Wartawan Pasuruan Adukan Anggota DPR RI, Misbakhun Ke Polres Pasuruan

Para wartawan saat di Mapolres Pasuruan

Pasuruan, Pojok Kiri
      Puluhan wartawan Pasuruan yang terdiri media cetak, eloktronik dan online, Senin (18/02) sekitar pukul 10.30 WIB mendatangi Mapolres Pasuruan. Mereka datang sambil membawa beberapa sepanduk yang salah satunya bertuliskan "Jangan Lecehkan Jurnalis".
      Sebelum datang Ke Polres, para wartawan ini sekitar pukul 09.00 WIB sempat berkumpul di alun-alun Bangil. Di tempat ini para wartawan membentangkan spanduk dengan tujuan untuk menyampaikan pesan bahwa siapapun tidak boleh melecehkan profesi jurnalis atau wartawan.
     Puluhan wartawan ini lalu bergerak ke samping Pengadilan Negeri Bangil, lalu dilanjutkan jalan kaki ke Mapolres sekitar pukur 10.30 WIB.
     Di Mapolres, para pewarta ini lalu menyerahkan berkas kepada sepri Kapolres atas petunjuk KBO Reskrim AKP Joko didampingi Kasubbag Humas AKP Hardi.
Misbakhun (foto by google)

     Apa isi berkas itu? Koordinator aksi Henry Sulfianto, S.Sos, SH dalam aksinya mengatakan, kedatangan para wartawan ke Mapolres Pasuruan ini adalah untuk mengadukan seseorang bernama H.M Misbakhun yang diketahui saat ini masih menjabat sebagai anggota DPR RI.
     "Pengaduan yang kami sampikam ini karena pada tanggal 14 Februari 2019 sekira pukul 18.38 WIB, saudara H. Mukhammad Misbakhun, SE, MH menshare atau menchat perkataan yang ada di dalam group whatsapp "MITRA KARIB" dengan suatu tulisan yang kami anggap menjatuhkan harga diri profesi jurnalis, ujaran kebencian, serta pelecehan profesi jurnalis, "ujar Henry.

      Dalam pengaduan itu, para wartawan juga menyertakan print out grop "mitra karib", dan surat pernyataan sikap para wartawan.
     Sayangnya, Pojok Kiri yang berusaha mengkonfirmasi Misbakhun dengan menghubungi nomor phonsel 08111457xx sekitar pukul 18. 48 WIB hanya terdengar suara "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi". (Lis)

Enak Nonton TV, Pri 50 Tahun Di Purwodadi Dibacok Orang Gila   

Korban yang mengalami luka

Pasuruan, Pojok Kiri
     Nasib nahas dialami pria paru baya bernama Abdul  Cholik (50), warga Dusun Welang, Desa Semut, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Pria yang berprofesi sebagai petani ini mengalami pembacokan pada Jum'at malam (15/02) sekira pukul 21.00 WIB saat nonton TV di rumah ketua RT Dusun setempat.
     Informasi yang didapat Pojok Kiri dari korban, saat itu ia mengaku sedang menonton TV di rumah tatangganya yang juga menjabat ketua RT. Saat asyik menikmati tayangan TV, tiba-tiba ia didatangi seorang pria yang  diketahui bernama Hurmatihim (30) yang langsung membacoknya dengan dua senjata tajam berupa clurit.
      Korban yang tidak merasa ada masalah dengan pelaku yang tak lain adalah tetangganya sendiri mengaku sangat kaget dengan aksi pembacokan itu.
     Pada saat kejadian, ada warga lain bernama Zainal Abidin (41) yang juga kena bacok. Saat itu Zainal Abidin berupaya menghalangi aksi membabi buta pelaku. Namun upayanya justru berakibat pada luka sayatan di kaki dan tangan akibat sabetan clurit.
      Sementara itu, akibat aksi pelaku yang membabi buta, korban Abdul Cholik mengalami banyak luka di sekujur tubuh dan kepala. Oleh warga, korban lalu dilarikan ke Puskesmas Purwodadi untuk mendapatkan pertolongan.
     Korban yang ditanya Pojok Kiri mengaku jika dirinya tak punya masalah dengan pelaku.
      "Saya tidak pernah punya masalah dengan orang itu mas, gak tahu kenapa kok tiba-tiba ia membacok saya, "ungkapnya heran.
      Sementara, cerita saksi Zainal Abidin yang juga sempat kena goresan clurit karena menghalangi, saat itu pelaku berteriak dengan membawa dua senjata clurit dan menanyakan keberadaan korban.
      "Waktu itu memang pelaku berteriak teriak mencari korban, dengan membawa clurit, mana Cholik, mana Kholik, "ceritanya menirukan gaya pelaku.
      Zainal menambahkan, pelaku juga sempat mengancam membacoknya bila si Cholik tidak keluar dari dalam.
      "Saya sempat diancam dibacok juga, "ujarnya.
      Kasus ini lalu dilaporkan ke Polsek Purwodadi. Menariknya, informasi yang didapat dari petugas Polisi, pelaku disebut dilarikan ke RSJ Sumber Porong, Lawang karena diindikasi sakit jiwa. (yud)

Tukang Sanji Asal Prigen Digulung Polsek Gempol

Pelaku, Ardi Gutus Susanto

Pasuruan, Pojok Kiri
      Ardi Gutus Susanto (34) warga Dusun Candiwates Rt 009 Rw 003, Desa Candiwates, Kecamatan Prigen ditangkap anggota unit reskrim Polsek Gempol, Kamis (14/02) sekitar pukul 22.00 WIB. Penangkapan itu dilakukan lantaran Andi terbukti menggelapkan motor milik Adi Satrio Budiono (29) warga Dusun Bangkok Rt 01 Rw 10, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol.
      Kronologi kejadian sebagaimana dikatakan Kanitreskrim Polsek Gempol, Iptu Agus Purnomo, pada Jum'at (01/02) sekira Pukul 14.30 WIB, pelaku meminta diantarkan korban ke rumahnya. Sesampainya dipinggir jalan raya dekat dengan rumah pelaku, tiba-tiba pelaku meminjam sepeda motor untuk dipakai ke rumahnya dengan berdalih kalau korban ikut ke rumahnya nanti istrinya marah.
      Selanjutnya sepeda motor korban di pakai oleh pelaku dan tidak dikembalikan ke korban, yang akhirnya korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gempol.
      "Pelaku berhasil kami amankan di tempat kosnya di Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol. Saat kami periksa, pelaku mengakui sudah dua kali melakukan penipuan di daerah Prigen dan Gempol, "tukas Iptu Agus Purnomo.
      Atas perbuatannya, Pelaku kini dijebloskan dibalik jeruji besi Polsek Gempol. Ia dijerat pasal 378 Subs 372 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. (isb)

Lagi Petir 'Makan Nyawa', Kali Ini Warga Pekoren Jadi Korban

Jasad Korban

Pasuruan, Pojok Kiri
      Petir yang ganas sepertinya terus kelaparan saat musim hujan kali ini. Belum lama seorang buruh tani di Desa Rejoso Kidul tewas disambar saat ia sedanh kerja ndaut. Kini kembali si petir memakan nyawa manusia seorang pria yang juga seorang petani.
     Petani malang itu bernama Soponyono (53) warga Dusun Krian, Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Ia diterkam si petir jahat pada Rabu (13/02) sekitar pukul 17.00 WIB.
      Informasi yang didapat Pojok Kiri dari sumber warga dan kepolisian Rembang, sebelum korban tewas disambar petir, diketahui sekitar pukul 16.30 WIB, korban pergi ke sawah dengan membawah cangkul dalam keadaan hujan.
      Tak berselang lama, korban ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi gosong oleh Shokeh warga Desa Rombo Wetan, Kecamatan Rembang.
      Melihat kejadian itu, Sokheh langsung melaporkan ke Kepala Desa Pekoren dan dilanjutkan ke pihak kepolisian.
     "Diduga korban meninggal akibat disambar petir saat tengah berada di sawah, "ucap AKP Bambang Kapolsek Rembang.
     Atas kejadian itu, pihak keluarga sudah menerima atas kematian korban. Mereka tidak menginginkan jasad korban dilakukan visum. (isb)

Remaja 16 Tahun Asal Wonorejo Jago Rakit Motor Trail

Aldho Artha Mandiri

Pasuruan, Pojok Kiri
     Aldho Artha Mandiri, remaja 16 tahun asal Kandangan, Krajan 3, RT 02/ 05, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan ini begitu dikenal di kalangan pemuda setempat, khususnya yang hobby motor trail.
     Aldo, begitu biasa ia dipanggil. Ia di kalangan penghobby motor trail kawasan Wonorejo sudah tidak asing lagi. Bahkan di komunitas trail adventure Wonorejo atau yang dikenal dengan Tawon, ia didapuk sebagai salah satu mekaniknya.
     Remaja yang masih duduk di kelas 2 sekolah menengah atas ini mengaku sudah hobby motor sejak SMP. Saat masuk sekolah menengah, ia langsung memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menimba ilmu soal motor. Iapun lalu memilih jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
     Hobby dan ilmu yang didapat di sekolah disatukan. Aldo yang merupakan putra pasangan Suprapto dan Ismartini yang juga keponakan Dwi Admaji salah satu Kabid di Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan ini lalu membuat bengkel sendiri di rumahnya.
     Dukungan orang tua dan sang paman membuat semangatnya semakin kuat. Di bengkel miliknya sendiri, Aldo mulai membuat karya dengan merakit motor trail sesuai dengan hobbynya.
      Hasilnya, dalam satu tahun ini Aldo mengaku sudah berhasil merakit 6 unit motor trail. Motor-motor itu ada yang pesanan, ada yang dipakai sendiri.
      Kepada Pojok Kiri, Selasa (12/02), Aldo yang ditemani pamannya, Dwi Admaji mengatakan, dalam waktu dekat ia akan merakit jenis motor minicross. Motor ini menurutnya sebagai contoh untuk nantinya diujikan kepada pecinta motocross.
     Dengan kemampuan yang dimilikinya, saat ini ia sudah banyak menerima pesanan dari para penghoby trail untuk dirakitkan. Hanya karena masih sekolah, Aldo belum bisa menerima semua.
     "Untuk pesanan sudah banyak, tapi sementara banyak yang saya tolak karena saya masih harus menyelesaikan sekolah, "ujarnya. (Lis) 

Sepasang Kekasih Asal Tutur Kompak Jadi Maling

Pasangan maling saat diperiksa polisi

Pasuruan, Pojok Kiri
      Sepasang kekasih asal Tutur, masing-masing Yuhce Wari Putra (22) warga Dusun Putuk, Desa Wonosari, Kecamatan Tutur dan kekasihnya Puput Hidayatul Fitroh (19) warga Dusun Manggungan, Desa Blarang, Kecamatan Tutur kompak jadi maling. Sayangnya, pasangan yang bergaya punk ini tak pandai dalam ilmu permalingan. Sebab belum juga mereka bisa beli pabrik dari hasil curiannya, mereka keburu ditangkap oleh Satreskrim Polsek Nongkojajar.
      Penangkapan sepasang kekasih ini dilakukan pada Senin (11/02) sekira pukul 14.00 WIB. Mereka ditangkap lantaran telah menggarong conter HP milik Timbul Hariadi (50) warga Dusun Putuk RT 01/02, Desa Wonosari, Kecamatan Tutur pada Jumat (08/02).
      Dalam aksinya, pasangan maling ini membobol counter HP dengan cara merusak gembok yang ada pada pintu rolling door milik korban. Selanjutnya, pelaku mengambil barang-barang berupa 14 kaos merk Distro, 10 Jaket merk Distro, 10 Memori VGen 8Gb, 5 Flashdisk Robot, 4 Powerbank VGen, 3 Powerbank Advance, 2 Tongsis, 6 Kabel data tipe C, 3 Adaptor Mito, 10 Flashdisk Caviar.
      Menurut Kapolsek Nongkojajar, AKP Sukiyanto, pelaku tidak hanya sekali melakukan pencurian.
      "Pelaku ini sudah sering beraksi. Saat kami periksa, mereka mengaku pernah mencuri di counter HP yang ada di Desa Tutur sekitar 25 Januari lalu. Pada Juni tahun 2018, mereka juga mengaku telah mencuri kotak amal Mushollah Dusun Putuk, Desa Wonosari, "terang AKP Sukiyanto.
      Atas perbuatannya, sepasang kekasih ini harus merasakan dinginnya jeruji besi. Mereka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan yang ancaman hukumannya 5 tahun penjara. (isb)

Menengok Dapil 1 Pileg 2019. Politisi Kuat Kumpul, Pemain Lama Dan Pendatang Baru Siap-Siap Beli Kursi Sendiri Di Bukir

Logo Pemilu

Pasuruan, Pojok Kiri
      Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan digelar serentak pada 17 April 2019 mendatang. Saat ini di berbagai tempat sudah bertebaran foto-foto calon legislatif (Caleg) termasuk foto calon presiden.
     Dalam hal ini, Pojok Kiri tertarik untuk menengok dunia pencalonan wakil rakyat atau legislatif di Kabupaten Pasuruan khususnya di (Daerah Pemilihan) Dapil 1 yang meliputi wilayah Kecamatan Bangil, Beji Dan Gempol.
     Sejak adanya perubahan Dapil di Pemilu 2019 saat ini, para Caleg harus menghadapi fakta adanya lawan berat yang kumpul.
    Untuk direview, pada Pileg 2014 lalu, di Kabupaten Pasuruan hanya memiliki 5 Dapil, yang meliputi Dapil 1 Tutur, Lumbang, Puspo, Pasrepan, Kejayan dan Tosari, Dapil 2 Purwosari, Purwodadi, Sukorejo, Pandaan, Dapil 3 Prigen, Gempol, Beji, Dapil 4 Wonorejo, Bangil, Rembang, Kraton, Pohjentrek, dan Dapil 5 Gondangwetan, Winongan, Grati, Nguling, Lekok.
     Pada Pileg 2019 ini, Dapil berubah menjadi 6, yakni Dapil 1 meliputi Bangil, Gempol, Beji, Dapil 2 Pandaan, Prigen, Sukorejo, Dapil 3 Wonorejo, Rembang, Kraton, Pohjentrek, Dapil 4 Purwosari, Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Dapil 5 Kejayan, Pasrepan, Lumbang, Winongan, Gondangwetan, dan Dapil 6 Rejoso, Lekok, Grati, Nguling.
      Dengan adanya perubahan Dapil ini, tentu berubah pula lumbung suara yang harus diraub oleh para incumben atau caleg yang pernah menjabat menjadi anggota DPRD, mengingat daerahnya juga berubah.
    Untuk Dapil 1 Bangil, Gempol, Beji misalnya. Dapil ini semula merupakan bagian dari Dua Dapil, yakni Dapil 3 yang meliputi Prigen, Gempol, Beji, dan Dapil 4 Wonorejo, Bangil, Rembang, Kraton, Pohjentrek.
     Saat ini untuk Bangil yang dulunya satu Dapil dengan Rembang, Kraton, Pohjentrek dan Wonorejo dijadikan satu dengan Gempol dan Beji dan masuk Dapil 1.
      Catatan menariknya, para Caleg incumben yang dulunya terpisah di 2 Dapil kini berkumpul alias numpuk di Dapil 1. Sebut saja Caleg Incumben Golkar Nik Sugiharti, Samsul Hidayat PKB, H. Ilyas Gerindra, Abdul Rouf PKB, Arifin PDI-P, Dan Sutar PDI-P. Mereka akhirnya harus berjuang berebut suara dengan Caleg kuat sekelas Rusdi Sutejo Gerindra dan H. Salamah Nasdem yang juga berangkat di Dapil 1.
     Selain itu, meski nama-nama tersebut disebut sebagai calon kuat versi kasak kusuk warung Kopi, akan tetapi nama-nama pendatang baru seperti Saad Muafi PKB putra dari Hj. Anisa Syakur yang juga politisi kuat PKB, serta seorang pemuda bernama Doni dari Golkar yang juga punya strategi kuat tentu akan semakin menyulitkan mereka untuk mendulang suara guna duduk kembali di kursi Dewan.
      Sementara pendatang baru lain atau pemain lama yang tidak pernah jadi juga tak kalah getol untuk mencari suara. Seperti halnya Kholis PKB, Musdalifah PKB, Najib Setiawan PKS serta nama-nama lain juga pasti ikut menggerogoti suara-suara mereka, meski menurut versi warung kopi, nama-nama mereka tidak kuat.
      Jika melihat kenyataan bahwa kursi Dewan yang diperebutkan di tiap Dapil hanya 9 kursi, lantas bagaimana nasib mereka nanti yang tidak mendapatkannya. Jadi untuk Imcumben atau pendatang baru bersiap-siaplah untuk memesan kursi sendiri di Sentra mebel Bukir untuk diduduki sambil minum kopi dengan tenang di rumah. (Lis)

Satpol PP Tangkap 13 'Senok' Watuadem, Tretes

Para PSK saat ditangkap

Pasuruan, Pojok Kiri
     Para pekerja sek komersial (PSK) atau bahasa jawanya 'senok' yang menjajakan dirinya di kawasan Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan jangan harap bisa tenang dalam berjualan tubuhnya. Pasalnya, Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) Kabupaten Pasuruan dengan senjata aturan yang dibawanya, tak mau daerah santri yang melekat pada Kabupaten Pasuruan terus dikotori oleh bisnis lendir ini.
     Minggu malam (10/02) sekira pukul 22.15 WIB, Satpol PP kembali bergerak menangkapi para PSK yang ada di Tretes. Kali ini sebanyak 13 PSK ditangkap saat sedang dipajang di 'etalase' wisma untuk disewakan di kawasan Watu Adem, Tretes.
     Kasi Operasional Satpol PP Kabupaten Pasuruan Ajar Dollar kepada Pojok Kiri, Senin (11/02) mengatakan, pihaknya tak akan berhenti dan akan terus menangkapi para PSK Tretes demi memberangus dunia prostitusi di Kabupaten Pasuruan.
      Sementara itu, para PSK yang berhasil ditangkap lalu mengikuti sidang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Namun sebelumnya, mereka terlebih dahulu harus menjalani tes kesehatan untuk diketahui ada yang mengidap HIV/AIDS atau tidak. (isb)

SATRIA EMAS' Dijadikan Alat Politik?

Koordinator Satria Emas, Musdalifah

Pasuruan, Pojok Kiri
      Program andalan Pemkab Pasuruan yakni Strategi dan Layanan Ekonomi Masyarakat atau yang disingkat Satria Emas sempat mendapat catatan dari Pansus II yang disampaikan Rohani Siswanto saat pengesahan Perda non APBD pada rapat Paripurna 31 Januari 2019 lalu.
     Disampaikan oleh Rohani, untuk program Satria Emas di dalamnya agar ditempatkan orang-orang profesional di bidang ekonomi yang secara linier mampu membawa Satria Emas pada tujuannya, yakni memajukan ekonomi masyarakat.
      Namun fakta yang terjadi, dalam 5 tahun perjalanannya, ternyata Satria Emas dipimpin atau dikoordinir oleh seseorang yang justru terlibat salam politik praktis yang bisa dikatakan sudah tidak profesional lagi. Saat ini sang koordinator Satria Emas masuk dalam jajaran Caleg PKB Dapil 1. Namanya Musdalifah.
     Keberadaan Musdalifah yang menjabat sebagai koordinator Satria Emas dan maju dalam pencalegan ini sempat disorot pada Agustus 2018 lalu. Dimana saat itu ada surat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia Nomor Nomor : 748 /PL.01.4-SD/06 /KPU/V11 /2018 perihal kewajiban mengundurkan diri. Isi surat itu menyebut, bagi calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota yang berstatus sebagai Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah, atau badan Iain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, wajib mengundurkan diri dan tidak dapat ditarik kembali.
      Namun saat itu Musdalifah yang dalam sehari-hari kinerjanya menggunakan fasilitas negara, termasuk mendapat honor atau gaji dari keuangan negara dan terdaftar sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tetap bertahan dan tidak mengundurkan diri dari jabatannya.
     Setelah mendapat sorotan itu, di bulan yang sama, yakni Agustus 2018, tepatnya Rabu, 15 Agustus 2018, Musdalifah mengaku bahwa sejak awal mau mendaftar menjadi calon legislatif (caleg), ia sudah sempat menyampaikan surat pengunduran diri. Hanya karena masih ada tanggungjawab yang harus diselesaikan, ia tidak bisa serta merta langsung berhenti.
     "Ada tanggungjawab yang masih harus saja laksanakan, karena ini berhubungan dengan masyarakat, saya tidak bisa langsung meninggalkan begitu saja, "ucapnya saat itu.
      Disinggung masalah adanya kasak kusuk yang mengarah pada dirinya karena dalam posisinya sekarang masih menggunakan fasilitas negara, Musdalifah mengaku sudah menyadari itu. Namun setelah ia melakukan komunikasi ke beberapa pihak yang menyatakan jabatannya sekarang tidak disebut secara jelas dalam jabatan yang harus mundur sebagaimana surat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia Nomor Nomor : 748 /PL.01.4-SD/06 /KPU/V11 /2018 perihal kewajiban mengundurkan diri, hal itu seolah dijadikan alasan untuk bertahan menjadi koordinator Satria Emas. Padahal ia sempat bilang akan mundur.
     "Tugas yang masih ada ini segera saya selesaikan, saya sendiri ingin fokus dalam pencalegan. Tidak mudah proses pencalegan, sementara ada tugas lain yang harus saya kerjakan. Dalam waktu dekat saya segera mundur sebagai koordinator Satria Emas, "ujarnya saat itu.
     Apakah dia jadi mundur? Pantauan Pojok Kiri serta informasi dari internal Disperindag Kabupaten Pasuruan yang merupakan Induk dari Satria Emas ini, hingga saat ini Musdalifah masih aktif sebagai Koordinator Satria Emas.
     "Yang saya tahu masih aktif, tapi jangan bilang dari saya ya, "kata sumber Disperindag tanpa mau disebut nama.
     Lalu kenapa Musdalifah tidak mau mundur dalam jabatannya sebagai Koordinator Satria Emas. Apakah program yang selalu berhubungan dengan mastarakat langsung ini sengaja ia manfaatkan sebagai salah satu alat politik? Sayang hingga berita ini turun. Musdalifah sangat susah dikonfirmasi. Nomor phonselnya +62821420869xx saat dihubungi selalu bernada sibuk. (Lis)

Isu Tuyul 'Teror' Kauman Dan Gelanggang, Kabarnya Tiap Hari Ada Saja Uang Yang Hilang

Ilustrasi Tuyul (By Google)

Pasuruan, Pojok Kiri
     Dalam satu bulan terakhir, warga 2 wilayah di Kecamatan Bangil dan Beji, yakni wilayah Kelurahan Kauman, Bangil dan Gelanggang, Beji diresahkan adanya isu keberadaan tuyul. Isu ini menguat karena banyak warga yang mengaku sering kehilangan uang dalam jumlah berbeda, mulai Rp. 50 ribu, 100 ribu hingga ada yang langsung hilang Rp. 1 juta rupiah.
     Brey (24) salah satu warga Kauman saat berbincang dengan Pojok Kiri, Jum'at (08/02) mengaku sering kehilangan uang di dalam dompet meski dompet sudah ia simpan rapat.
    "Dalam tiga hari terakhir ini, setiap hari uang saya hilang. Padahal sudah saya simpan rapat di dompet, dan dompetnya selalu saya bawa termasuk saat tidur, "ungkap Brey.
      Tak hanya Brey, keluarga Brey serta para tetangganya juga diakui sering kehilangan uang.
     "Saudara saya ada yang hilang 1 juta, ada yang hanya 100 ribu. Pokoknya selalu ada yang kehilangan termasuk para tetangga "kata Brey.
     Diceritakan Brey, hilangnya uang ini sangat aneh. Sebab meski sudah disimpan rapat dan dipastikan jumlahnya, pada pagi hari ada saja yang berkurang atau kehilangan. Namun lanjut Brey, ada juga yang uangnya awalnya hilang, setelah beberapa hari dicari ketemu di tempat berbeda.
      Kasus kehilangan ini merebak di lingkungan Singopolo, Kelurahan Kauman termasuk di lingkungan Kauman sendiri. Selain itu, saat ini kasus hilangnya uang secara misterius ini juga melanda wilayah Kelurahan Gelanggang, Beji.
     Atas banyaknya kejadian kehilangan uang secara misterius ini membuat warga resah. Mereka meyakini kejadian hilangnya uang ini karena ulah makhluk gaib yang bernama tuyul. (Lis)

BKD Kabupaten Pasuruan Laksanakan Penyuluhan dan Pembagian SPPT PBB-P2 Tahun 2019

Saat pelaksanaan penyuluhan

Pasuruan, Pojok Kiri
      Terhitung sejak Rabu, 07 Februari 2019 hingga Selasa,12 Februari 2019,  Pemerintah Kabupaten Pasuruan  melalui Badan Keuangan Daerah (BKD)  melaksanakan giat penyuluhan dan penyerahan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dengan nilai pajak sampai Rp 500 ribu.
      Mokhammad Syafi'i, Kabid Pendataan, Penetapan, dan Pelaporan Pendapatan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan kepada Pojok Kiri Rabu (06/02) mengatakan, tujuan dilaksanakannya kegiatan penyuluhan adalah sebagai upaya pemerintah daerah dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya di sektor pajak dan retribusi daerah.
      Kegiatan yang dijadwalkan selama Satu minggu ini dilaksanakan di 8 lokasi berbeda, yakni Kecamatan Pandaan, Purwosari, Puspo, Grati, Bangil, Kejayan, Gondangwetan, dan Winongan.
      Di masing-masing kecamatan, BKD mengundang seluruh kepala desa dan kelurahan dari kecamatan terdekat. Seperti yang terlihat pada pelaksanaan Rabu (06/02) di Kecamatan Bangil, BKD melaksanakan penyuluhan terhadap masyarakat Bangil, Beji dan Kecamatan Rembang. Di kecamatan lain juga sama, BKD mengundang perwakilan kepala desa dari 3 atau 4 kecamatan terdekat.
       Syafi’i menandaskan, peran kepala desa atau lurah sangat penting, yakni sebagai ujung tombak dan lini terdepan bagi para aparat atau pejabat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, untuk dapat mendistribusikan SPPT PBB-P2.
      "Kita berharap para kepala desa mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya membayar PBB-P2 sebelum jatuh tempo, "tandasnya.
       Sementara itu catatan target penerimaan PBB-P2 di tahun 2019 ini sebagaimana diterangkan Syafi'i, Rabu, (06/02) ada peningkatan sebesar Rp. 2 milyar, dari target tahun 2018 sebesar Rp. 66 milyar menjadi Rp. 68 milyar.
      Angka kenaikan ini jelas Syafi'i merujuk pada jumlah wajib pajak yang bertambah, dimana pada tahun 2018 sebanyak 738. 250 wajib pajak, di tahun 2019 ini bertambah menjadi 739. 138. (Lis)
PERISTIWA
HUKUM
KRIMINAL
POLITIK

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas