TERKINI

Jualan Tak Laku, Pedagang Pasar Grati Ogah Tempati Lapak Baru

Para pedagang yang memilih berjualan di luar

Pasuruan, Pojok Kiri
     Keberadaan lapak-lapak baru di Pasar Grati yang merupakan hasil pembangunan pemerintah Kabupaten Pasuruan ternyata yak mampu membuat geliat perdangan lebih bergairah. Pasalnya, pasar yang diresmikan sebelum Ramadhan lalu dan para pedagang 'dipaksa' untuk berjualan dengan menempati lapak-lapak baru baik berupa toko atau los ternyata tak mampu mendongkrak ekonomi mereka. Para pedagang justru mengaku jualannya sepi.
     Sekian lama bertahan sejak mereka berjualan di lapak baru sebelum Ramadhan hingga pasca Idul Fitri ternyata tak kunjung memenuhi harapan. Pembeli sangat sepi, jika ada hanya segelintir orang saja.
    Endingnya, atas minimnya pembeli ini, para pedagang mengaku merugi setiap hari. Mereka yang didominasi para penjual kebutuhan dapur sebagian terpaksa harus membuang sisa dagangannya karena tidak laku.
     "Seperti saya ini jualan sayur, sedikit lakunya. Jadi sisanya sering saya buang, kadang saya masak sendiri, bagaimana lagi, memang pembelinya sedikit, "ungkap Imron salah satu pedagang.
     Tak kuat dengan kondisi ini, Senin pagi (17/06), sejak pukul 06. 30 WIB, para pedagang yang sudah menempati los dalam memilih berjualan di luar. Aksi ini dilakukan oleh sekitar 60 pedagang tanpa peduli reaksi petugas pasar yang kelimpungan melihat ulah para pedagang.
     "Ini bentuk protes saja, biar ada perhatian dari pihak pengelola pasar. Sebab kami ini disuruh berjualan di dalam dan dikenakan retribusi, tapi pihak pengelola pasar tidak mencari cara agar pasar ramai. Paling tidak sosialisasi ke desa-desa. Kan banyak yang tidak tahu, "harap pedagang lain.
     Hingga berita ini turun, belum ada penjelasan dari Disperindag selaku pengelola pasar. (Lis)

Bawa Pedang, Arek Sumber Dawesari, Grati Dijebloskan Ke Bui

Asrorul Jazak sang pemuda asal Grati yang ditangkap karena membawa sajam

Pasuruan, Pojok Kiri
     Asrorul Jazak (19) warga Dusun Dawe Wetan, RT 00, RW 006, Desa Sumber Dawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan harus berurusan dengan polisi. Ia ditangkap karena kedapatan membawa senjata tajam (sajam) berupa pedang.
    Pemuda berbadan kurus ini ditangkap oleh anggota reskrim Polsek Purwosari pada Sabtu malam (15/06) sekira pukul 20.00 WIB saat berada di salah satu SPBU kawasan Purwosari.
     Awal penangkapan sebagaimana diterangkan Kanitreskrim Polsek Purwosari, Aiptu Hariyanto, Minggu (16/06), saat itu ada anggotanya sedang mengisi BBM. Di waktu bersamaan anggotanya melihat seorang pemuda tampak sendirian dengan gelagat mencurigakan.
     "Karena curiga, anggota kami lalu mendatangi pemuda itu dan dilakukan pemeriksaan. Ternyata kecurigaan anggota kami terbukti, pemuda itu di dapati membawa sajam berupa pedang, "terang Aiptu Hariyanto.
     Karena membawa sajam tanpa ijin dan dianggap menyalahi hukum, pemuda 19 tahun itu lalu dibawa ke Mapolsek Purwosari untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
     Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim reskrim, pemuda Grati itu mengaku pedang yang ia bawa merupakan pesanan dari seorang temannya di Purwosari.
    "Ngakunya pesanan teman, tapi untuk kebenarannya masih kami dalami, "ujar Aiptu Hariyanto.
    Akibat sajam yang ia bawa, Asrorul Jazak sang pemuda Grati ini akhirnya dijebloskan ke bui. Ia dijerat undang undang darurat No 12 tahun 1951tentang pemilikan senjata tajam dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. (isb)

Sistim Zonasi Hapus Harapan Sebagian Anak Untuk Masuk Sekolah Negeri

Ilustrasi (By Google)

Pasuruan, Pojok Kiri
     Munculnya Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) benar-benar membuat shok banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah negeri.
     Dalam hal ini yang paling susah dikejar adalah masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri yang menjadi impian anaknya.
     Jika untuk sekolah menengah pertama (SMP), tentu tidak se khawatir tingkat SMA, sebab jumlah sekolah SMP negeri jauh lebih banyak dari SMA, tentunya kemungkinan tertampung di SMP Negeri sangat besar, meski bukan SMP negeri yang menjadi harapan si anak maupun orang tua. Hal ini juga berlaku bagi Sekolah Dasar (SD).
    Yang paling pelik adalah seorang anak yang ingin masuk SMA Negeri. Jumlah SMA yang tidak terlalu banyak dengan kuota yang terbatas sudah pasti akan memupuskan harapan sebagian anak lulusan SMP yang mau masuk SMA Negeri. Sebesar apapun Nilai Ujian Nasional (NUN) yang dimiliki, sangat sulit diterima jika alamat rumahnya jauh dari sekolah yang dituju. Kecuali dia daftar lewat jalur prestasi yang saat ini juga sudah tutup dan jumlahnya juga sangat minim, hanya 5 persen dari kuota sekolah.
    Contoh persoalan yang bisa memupus harapan anak untuk masuk SMA Negeri.
     Sebut saja Zona 1 dengan tujuan SMAN I Bangil yang meliputi Kecamatan Bangil, Beji, Kraton, Rembang dan Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Di SMA Negeri Bangil, kuota yang tersedia hanya 425. Sedang saat ini menurut sang Kepala Sekolah, Dwi Cahyo Setiono saat ditanya Pojok Kiri, Kamis (13/06), jumlah yang ambil pin pendaftaran sudah mencapai 650 an.
     Jika mengacu pada zonasi, maka 425 anak yang nantinya diterima adalah yang paling dekat dari sekolah berdasarkan peta lokasi yang menjadi acuan penentuan zona.
     Lalu yang jauh bagaimana? Ini persoalannya, mereka yang rumahnya jauh, padahal masuk zona 1 dengan tujuan SMAN 1 Bangil otomastis gugur. Sedang untuk mendaftar di SMAN lain seperti SMAN 1 Pandaan jelas tidak bisa karena beda zonasi.
    Contoh seorang anak yang punya alamat ikut Kecamatan Beji dengan tempat tinggal dusun terjauh, seperti Wonokoyo. Mengacu pada alamat, ia masuk zonasi yang ikut SMAN 1 Bangil. Sementara kuota di SMAN 1 Bangil hanya 425, sementara yang ambil pin pendaftaran sudah 650 an. Apakah ia bisa diterima? Tentu sangat kecil kemungkinan. Sebab dari 425 itu akan diterima yang alamatnya paling dekat.
     Sisa 250 anak ini terpaksa harus sekolah swasta, atau memilih sekolah negeri lain seperti SMK Negeri, atau sekolah negeri lain yang tidak menerapkan zonasi. Sebab untuk mendaftar ke SMA Negeri lain tidak bisa.
     Kepsek SMAN 1 Bangil Dwi Cahyo Setiyono yang juga Ketua MKKS SMA Negeri Kabupaten Pasuruan berharap ada perubahan aturan di tahun mendatang. Sebab selain mematikan harapan anak yang saat lulus memiliki NUN tinggi, sekolah juga tidak bisa mengetahui kwalitas calon siswanya.
     Untuk diketahui, berdasarkan Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB sebagaimana dilangsir di banyak situs online, ada perbedaan antara pelaksanaan PPDB tahun 2018 dan 2019 kali ini.
    Yang pertama Penghapusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), jika di tahun 2018 bagi siswa yang ingin masuk sekolah yang dituju namun NUN nya kecil, ia bisa memanfaatkan SKTM yang dikeluarkan oleh desa. Memang sistim ini sarat dengan pungli, karena anak orang kaya yang NUN nya kecil-pun bisa masuk dengan modal SKTM yang tentunya dengan 'alat pelicinnya'. Kini SKTM sudah dihapus, sehingga alat untuk pungli sudah tidak dimiliki.
     Yang Kedua tentang lama domisili
Dalam PPDB 2018, domisili berdasarkan alamat Kartu Keluarga (KK) yang diterbitkan minimal 6 bulan sebelumnya. Sedang dalam Permendikbud baru untuk PPDB 2019 didasarkan pada alamat KK yang diterbitkan minimal 1 tahun sebelumnya.
    Yang ke Tiga, pengumuman daya tampung. Dalam hal ini untuk meningkatkan transparansi dan menghindari praktik jual-beli kursi, Permendikbud baru ini mewajibkan setiap sekolah peserta PPDB 2019 untuk mengumumkan jumlah daya tampung sesuai data rombongan belajar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Sementara pada Permendikbud sebelumnya belum mengatur secara detil perihal daya tampung ini hanya menyampaikan daya tampung berdasarkan ketentuan peraturan perundangan atau standar proses.
     Yang ke Empat, prioritas satu zonasi sekolah asal. Dalam aturan di 2019 ini juga diatur mengenai kewajiban sekolah untuk memprioritaskan peserta didik yang memiliki KK atau surat keterangan domisili sesuai dengan satu wilayah asal (zonasi) yang sama dengan sekolah asal.
Hal ini untuk mengantisipasi surat domisili palsu atau 'bodong' yang dibuat jelang pelaksaan PPDB.
     Terkait pemalsuan surat mutasi domisili maupun surat mutasi kerja, serta praktik jual-beli kursi, sebagaimana dikatakan Mendikbud yang dilangsir banyak media, ia akan menindak-tegas karena sudah masuk dalam ranah pungli, pemalsuan, maupun penipuan. (Lis)

Daftar Sekolah Negeri, Nilai Ujian Nasional Tidak Diperlukan, Rumah Dekat Sekolah Langsung Diterima

Ilustrasi (by google)

Pasuruan, Pojok Kiri
     Bagi siswa siswi yang lulus Sekolah Dasar (SD) yang hendak melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan lulus SMP mau melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun ajaran 2019/2020 kali ini dipastikan akan sangat mudah untuk mesuk ke sekolah negeri. Pasalnya, sebagaimana Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), untuk masuk SMP dan SMA Negeri sudah tidak lagi perlu bingung dengan Nilai Ujian Nasional (NUN) yang tercantum dalam Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN). Sebab sistim yang digunakan sebagaimana Permendikbud tersebut adalah penerapan zonasi.
     Terkait zonasi ini sendiri sebagaimana dijelaskan Kadispendik Kabupaten Pasuruan, Iswahyudi melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Hasbullah kepada wartawan, Rabu (12/06), masing-masing sekolah akan menetapkan zonasi dengan minimal dusun atau zona yang paling dekat. Bagi mereka yang bertempat tinggal di dusun dekat dengan sekolah, langsung diterima tanpa melihat NUN.
     Lebih jauh menurut Hasbullah, ketentuan zonasi ini akan sangat menguntungkan bagi para siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah. Sebab tak ada lagi persaingan siswa yang rumahnya jauh masuk ke sekolah tersebut.
     Ia juga menjelaskan, dengan zonasi seperti ini, tidak ada lagi sekolah unggulan atau favorit. Setiap sekolah nantinya akan menjadi favorit di daerahnya masing-masing.
    Dalam penerapan zonasi ini lanjut Hasbullah, untuk prosentasenya adalah 90 persen. Sedang sisanya yang 10 persen dibagi menjadi dua, yakni 5 persen diperuntukkan bagi siswa di daerah perbatasan, sedang 5 persen sisanya untuk mengakomodasi jalur prestasi baik akademik maupun nonakademik termasuk siswa pindahan.
     Sementara itu, ada catatan yang disampaikan ketua MKKS SMA Kabupaten Pasuruan yang juga Kepala SMAN 1 Bangil, Dwi Cahyo Setiyono saat ditanya Pojok Kiri, Kamis (13/06). Menurutnya, untuk PPDB tahun ini sekolah tidak akan tahu kwalitas siswa yang masuk ke sekolahnya.
    "Intinya mereka yang rumahnya dekat dengan sekolah ya kita terima sesuai dengan kuota yang kita miliki. Berapapun nilai NUN tidak diperlukan. Jadi kita tidak tahu bagaimana kwalitas siswa didik kita nanti. Tahunya hanya pada saat tes penjurusan saja, "ucap Dwi.
     Sementara itu terkait pembagian zonasi SMA tersebut, Dwi menjelaskan ada 5 zona untuk wilayah Kabupaten Pasuruan.
     Zona 1 dengan tujuan SMAN I Bangil meliputi Kecamatan Bangil, Beji, Kraton, Rembang dan Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
     Zona 2 dengan tujuan SMAN I Pandaan meliputi wilayah Prigen, Pandaan, Gempol dan Ngoro.
    Zona 3 yang akan menuju SMAN I Purwosari dan SMAN I Kejayan meliputi Kecamatan Tutur, Wonorejo, Purwosari, Purwodadi, Sukorejo, Kejayan, Pohjentrek dan Lawang.
    Zona 4 dengan tujuan SMAN I Grati dan SMAN I Gondangwetan meliputi wilayah Kecamatan Lekok, Winongan, Pasrepan, Rejoso, Gondangwetan, Nguling, Puspo dan Grati.
     Serta Zona 5 dengan tujuan SMAN I Tosari dan SMAN I Lumbang meliputi wilayah Tosari dan Lumbang.
     Catatan lain sebagaimana Permendikbud, untuk SMK justru tidak menerapkan zona. Alasannya menurut Ketua MKKS SMK Negeri, Indrajaya, hal ini lantaran di SMK menerapkan sistim minat dan bakat. "Soalnya di masing-masing sekolah SMK itu jurusannya berbeda-beda, setiap yang masuk SMK sesuai minat dan bakat. Jadi idak bisa dipaksakan seorang siswa harus masuk sekolah SMK yang dari sisi minat dan bakat tidak disukai, "ucap Indra. (Lis)

Sempat Lempar Bondet, Maling Motor Sadis Asal Plososari Ditangkap Saat Beraksi Di Pasinan, Beji

Inilah wajah sang maling sadis, Muhammad Husalim

 Pasuruan, Pojok Kiri
     Muhammad Husalim (26) warga Dusun Batuan, Desa Plososari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan ditangkap tim Reskrim Polsek Beji, Rabu siang (12/06) sekira pukul 12.00 WIB di kebun mangga kawasan Dusun Pasinan, Desa Beji Kec. Beji, Kabupaten Pasuruan.
     Penangkapan atas pria berbadan kecil ini dilakukan setelah ada teriakan maling yang terlontar dari warga.
     Ya, Muhammd Husalim ini sebelum ditangkap memang sempat beraksi melakukan pencurian terhadap satu unit sepeda motor Honda Beat warna hitam, Nopol W-5417-TK milik korban Moch. Khoiron (34) warga Dusun Pasinan, Beji. Kejadian itu berlangsung di siang bolong sekira pukul 11. 30 WIB.
     Kronologi kejadian sebagaimana disampaikan Kanit Reskrim Polsek Beji, Ipda Tatok, pra kejadian pelaku mendatangi sepeda motor milik korban yang diparkir di pinggir jalan kampung dengan menggunakan kunci T. Setelah berhasil menghidupi motor jarahannya, pelaku lalu membawa kabur motor tersebut.
     Namun saat pelaku membawa motor hasil curiannya itu, sang korban, Moch. Khoiron melihat. Korban lalu teriak maling dengan suara keras.
     Mendengar suara teriakan itu, pelaku tancap gas untuk segera lari jauh. Namun sang korban tidak mau diam. Ia terus mengejar pelaku hingga membuat pelaku panik ketika berada di rel kereta api. Saat itu pelaku mengeluarkan senjatanya berupa bondet yang kemudian dilemparkan ke korban Moch. Khoiron.
Saat penangkapan sang maling

     "Ledakan bondet itu mengenai kaki sebelah kiri korban. Saat itu pelaku terus melarikan diri yang kemudian dikejar warga yang berdatangan, "kata Ipda Tatok.
    Karena panik atas kejaran warga, serta si maling tidak tahu medan, ia lalu masuk ke kebun mangga Utara jalan yang merupakan jalan buntu. Disitu ia akhirnya terkepung warga. Namun warga tak berani bertindak sendiri karena takut pelaku melempar bondet lagi.
    Tak lama, petugas Reskrim Polsek Beji datang. Dengan dibantu warga, petugas lalu menangkap pria kecil yang memiliki wajah bengis tersebut.
     Saat ditangkap, warga yang marah tak lupa memberikan banyak hadiah pukulan ke wajah pelaku. Beruntung, petugas cepat membawa pergi sang pelaku, sehingga nyawanya masih melekat di badan.
     Kini maling sadis asal Plososari, Grati tersebut sudah dijebloskan ke tahanan Mapolsek Beji. Untuk selanjutnya ia akan diproses secara hukum. (Lis)

Soal Insentif Honorer K2 Yang Belum Terbayar Satu Bulan, Ini Kata Kadispendik, Iswahyudi

Kadispendik Kabupaten Pasuruan, Iswahyudi

Pasuruan, Pojok Kiri
     Soal insentif Honorer K2 yang hanya diterima 4 bulan dari 5 surat pertanggungjawaban (SPJ) yang ditandatangani pada Mei 2019 lalu, Rabu (12/06) Kadispendik Kabupaten Pasuruan, Iswahyudi akhirnya angkat bicara.
     Menurut pria yang karib disapa abah Is ini, tidak ada insentif yang tidak diberikan ke para honorer K2 maupun Sukwan murni.
     "Semua insentif yang menjadi hak dari honorer K2 maupun Sukwan murni akan kami berikan secara penuh. Hanya pada pencairan Mei lalu, ada mekanisme yang harus diikuti, yakni untuk insentif bulan Mei akan dimasukkan pada bulan Juni. Artinya insentif pada bulan Mei memang tidak bisa diberikan saat itu, nanti pada pencairan berikutnya pasti akan diberikan, "ujar Iswahyudi.
    Sementara itu, Pojok Kiri yang mencari informasi terkait pencairan insentif honorer K2 ini ke Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan selaku juru bayar, ada penjelasan yang disampaikan Kepala BKD Luly Noermadiono melalui Kabid Anggaran Dwi Admaji, bahwa untuk surat perintah pencairan dana (SP2D) yang masuk ke tempatnya saat itu tercatat 4 bulan, yakni Januari, Februari, Maret dan April.
     "SP2D yang diajukan hanya 4 bulan, dari Januari hingga April. Untuk yang bulan Mei memang belum, "ucap Dwi Admaji.
     Apa yang disampaikan oleh Kadispendik Iswahyudi dan BKD ini telah menjawab teka-teki kemana uang insentif honorer K2 yang belum terbayar 1 bulan.
    Dalam hal ini Kadispendik sedikit menyampaikan catatan kepada para honorer K2 agar tidak terlalu gegabah dalam menyampaikan informasi keluar.
     "Harusnya mereka para honorer itu bersyukur, sudah dikasih uang insentif. Saya jadi prihatin jika begini, sudah dikasih malah memunculkan informasi tanpa klarifikasi lebih dulu. Intinya uang akan diberikan, bekerja dulu baru dibayar. Jangan sedikit-sedikit membuat gaduh, "seloroh Iswahyudi.
     Sementara itu, kepada honorer K2, Iswahyudi mengaku sudah memberikan penjelasan.
    Hari ini (Rabu, 12/06) sekira pukul 11.00 WIB pengurus Honorer K2 sudah menemui saya. Saya sudah jelaskan mekanismenya ke meraka, "pungkas Kadispendik, Iswahyudi. (Lis)

Soal Insentif Yang 'Raib' Satu Bulan, Ketua Honorer K2 Ngaku Belum Ada Pejelasan Dari Dispendik

Ketua Honorer K2 Eko Budi Setiawan (Kanan) dsn Kadispendik Kab. Pasuruan, Iswahyudi (Kiri)

Pasuruan, Pojok Kiri
     'Raibnya' satu bulan insentif honorer Kategori 2 (K2) hingga kini belum ada kejalasan entah kemana. Ketua Honorer K2, Eko Budi Setiawan saat ditanya Pojok Kiri, Selasa (11/06) mengaku belum mendapat penjelasan dari pihak Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Pasuruan.
    "Belum ada penjelasan dari Dispendik, rencananya kami bersama pengurus akan menemui Pak Iswahyudi selakau Kadispendik. Masih menunggu waktu, soalnya nuansa lebaran masih ada. Jadi belum enak, "kata Eko.
     Sementara itu, Pojok Kiri hingga berita ini turun juga belum mendapat konfirmasi dari Kadispendik, Iswahyudi. Berkali-kali Pojok Kiri menghubungi nomor phonsel pria yang karib disapa Abah Is di 081230817xx tidak direspon. Ada nada sambung tapi tidak pernah diangkat. Kenapa Abah Iswahyudi jadi susah dihubungi?
     Untuk diketahui, para honorer K2 di Kabupaten Pasuruan pada 2019 ini mendapatkan insentif dari Bupati yang disalurkan melalui Dinas Pendidikan dengan besaran untuk tenaga adminitrasi sebesar Rp. 750 ribu perbulan, dan untuk guru Rp. 1 juta. Sementara untuk Sukwan bervariasi tergantung masa pengabdiannya.
     Untuk penerimaan insentif ini waktunya tidak sama, kadang 3 bulan sekali dengan sitim rapel, kadang 4 bulan, dan jelang lebaran ini terhitung cair 5 bulan.
     Tanggal 20 Mei lalu, para honorer K2 mengaku telah membubuhkan tandatangan pencairan untuk SPJ di kantor Dinas Pendidikan tercatat 5 bulan. Sedang para Sukwan tanda tangan dimulai tanggal 21 hingga 29 Mei. Untuk pencairannya, semua sama yakni tanggal 29 Mei 2019.
     Namun ada kekagetan dan tanda tanya dari para penerima insentif kala itu. Dalam pencairan yang langsung masuk rekening pada 29 Mei sekitar pukul 16. 30 WIB, uang yang masuk hanya terhitung 4 bulan.
     Lalu yang satu bulan kemana? Raibkah, atau hanya belum ada uang saja. Ayo abah Iswahyudi, kapan Abah mau menjawabnya. (Lis)



Rasakno!!!! Cari Uang Tambahan Pilih Jualan Sabu, Arek Gunting, Sukorejo Dijebloskan Ke Penjara

Pelaku Sokheh

Pasuruan, Pojok Kiri
     Sokheh (39) warga Dusun Genitri, Desa Gunting Kecamatan Sukorejo ini pantas mendapat ucapan kuapok. Pasalnya, ia yang sudah punya pekerjaan di sebuah bengkel motor malah bertingkah dengan berjualan sabu. Akibatnya bukan kekayaan dan kenyamanan yang didapat, ia malah harus menikmati hari-harinya di dalam bui yang pengap.
     Sokheh yang setiap hari bekerja di bengkel kawasan Dusun Jati Rt.001 Rw.007, Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo ditangkap oleh tim Satresnarkoba Polres Pasuruan pada Minggu (09/06) sekira pukul 20.00 WIB. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kasat Narkoba Polres Pasuruan, AKP Nanang Sugiono kepada Pojok Kiri, Selasa (11/06).
     "Pelaku kami tangkap saat menunggu pelanggan yang memesan sabu di dalam rumahnya, "ujar AKP Nanang.
     Ia menjelaskan, dalam berjualan shabu, Sokheh sudah menekuni selama 7 bulan.
     "Pelaku melayani pembeli kadang di rumahnya, kadang di bengkel tempatnya bekerja, "imbuh AKP Nanang.
     Sokheh sendiri kepada petugas berdalih, ia melakoni pekerjaan haram dengan berjualan sabu lantaran penghasilan bengkel minim.
     Seribu dalih yang disampaikan pelaku Sokheh biar ia ukir di dalam hatinya untuk menjadi kenangan buruk sepanjang masa. Polisi sudah menangkapnya dengan bukti Narkoba jenis sabu sebanyak 0, 21 gram yang akan ia jual, selanjutnya pelaku harus menjalani proses hukum untuk menerima putusan pengadilan, berapa lama ia akan meringkuk dipenjara.
     Atas perbuatannya, Sokheh dijerat pasal 112 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. (isb)

Gelombang Mutasi Di Pemkab Pasuruan Sudah Di Depan Mata, Bupati Beri Sinyal Saat Halal Bihalal

Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf saat sampaikan sambutan di acara halal bi halal

Pasuruan, Pojok Kiri
     Rencana mutasi di tubuh pejabat Pemkab Pasuruan sudah di depan mata. Pasalnya, Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf telah memberikan sinyal saat menyampaikan sambutan dalam acara halal bihalal bersama seluruh jajaran pejabat dan karyawan karyawati Pemkab Pasuruan, Senin (10/06) di halaman perkantoran Raci. Saat itu ia sempat penyinggung tentang rencana akan mengadakan rapat dengan Badan Perencanaan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat).
    Baperjakat sendiri untuk tingkat Kabupaten atau kota merupakan Badan yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan kepada pejabat pembina kepegawaian dalam pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan struktural Eselon II ke bawah.
    Di Baperjakat ini nama-nama pegawai digodok untuk ditempatkan pada jabatan yang sesuai.
     "Ingat ya, sebentar lagi saya akan rapat dengan Baperjakat, kalau sebelum lebaran saya rapat dengan BAZ (Badan Amil Zakat, red), tapi kali ini dengan Baperjakat, "ucap Irsyad Yusuf.
     Ucapan Irsyad Ini disampaikan di hadapan semua yang hadir, termasuk ada Wakil Bupati, Sekda dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda).
     Irsyad melontarkan ucapan tersebut usai bertanya kepada para karyawan karyawati, terkait siapa yang tidak siap untuk melaksanakan program-program Pemerintah.
     Penegasan yang disampaikan Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf ini pada dasarnya merupakan jawaban dari rumor adanya mutasi yang beredar pada April 2019 lalu. Dimana saat itu rumor menyebut bahwa pada awal Mei 2019 akan ada mutasi pejabat dalam tahapan yang pertama, khusus untuk pengisian kekosongan jabatan.
     Rumor menyebut akan ada mutasi ke dua yang akan dilakukan pasca lebaran Idul Fitri. Pada tahap ini, mutasi akan dilakukan secara besar-besaran mulai eselon 4, 3 dan 2 yang juga ada promosi eselon.
     Pada rumor April 2019 lalu, sempat muncul nama-nama yang akan menempati jabatan eselon 2.
     Untuk diingat, nama-nama itu adalah Anang Saiful Wijaya yang saat ini menjabat asisten 1 Sekda akan menempati jabatan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT), yakni dinas yang menangani perijinan. Lalu Suharto yang saat ini menjabat asisten 2 akan menempati jabatan Kepala Bakesbangpol, sedang untuk Zainudin akan digeser mengisi kekosongan Kepala Dinas Tenaga Kerja.
     Selanjutnya adalah Ikhwan yang saat ini menjabat Kadis Pertanian dan Plt Kepala Bappeda. Ia akan didifinitifkan di Bappeda dan akan dilepas jabatannya sebagai Kadis Pertanian.
     Sementara untuk Kadis Pertanian akan diisi oleh Yetty Purwaningsih yang saat ini menjabat sebagai Kepala Keluarga Berencana Peranan Perempuan (KBPP).
     Satu hal yang juga cukup menarik pada rumor mutasi saat itu, bahwa untuk jabatan kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabarnya akan tetap dipegang oleh Indra Hernandi dalam kapasitas tetap sebagai pelaksana tugas (Plt). Indra sendiri saat ini masih menjabat sebagai Kabag Administrasi, Keuangan dan Perlengkapan Sekda Kabupaten Pasuruan. Indra sendiri masih punya waktu sekitar 1, 5 tahun menuju pansiun. Disebut ada catatan kuat sebagaimana rumor yang beredar, kenapa ia bisa menempati Dua jabatan tanpa tergoyahkan.
     Namun rumor mutasi itu tidak terbukti, ada suara yang menyebut, jika suatu rencana Baperjakat bocor, maka kemungkinan akan ada perubahan termasuk nama-nama yang sudah muncul.
    Benar tidaknya itu, hanya Baperjakat dan Bupati yang tahu. Yang pasti saat ini Bupati sudah menyampaikan dengan terbuka bahwa dalam waktu dekat ia akan rapat dengan Baperjakat.   (Lis)

Awas!!! Begal Masih Bocah Berkeliaran Di Pasuruan, Satu Tertangkap

Pelaku NS yang tertangkap

Pasuruan, Pojok Kiri
     Dasar generasi micin campur garam, bukannya belajar dan berbuat baik agar jadi kebanggaan orangtua, eh mereka yang masih bocah, otaknya justru dipenuhi nafsu buruk dan memilih menjadi penjahat.
     Inilah yang dilakoni NS, bocah yang masih berumur 16 tahun warga Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Ia bersana teman-temannya HS dan FR yang semuanya juga diketahui masih bocah bau kencur memilih menjadi penjahat dengan melakoni aksi menjadi begal.
     Konon kawanan begal bocah ini kerap meresahkan warga. Dalam beraksi menjadi begal, sasaran mereka adalah para remaja putra dan putri yang dianggap masih anak-anak yang berani berkeliaran di malam hari di jalan-jalan yang sepi kawasan Kota Pasuruan.
     Namun aksi bocah berotak jahat ini tak berlangsung lama. Sabtu, (08/06) sekira pukul 21.00 WIB, salah satu begal bocah berinisial NS tertangkap di kawasan Kelurahan Mayangan, Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan setelah melakukan pembegalan terhadap korban DW (15) warga Panggungrejo, Kota Pasuruan.
     Kronologi tertangkapnya pelaku NS sebagaimana dituturkan Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Slamet Santoso, Minggu (09/06), sebelum tertangkap, pada Sabtu malam (08/06) sekira pukul 21.00 WIB, pelaku NS dan dua temannya melakukan pembegalan terhadap korban DW di Jl. Patimura, Kelurahan Bugul Kidul, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, tepatnya di depan makam Bugul.
    "Saat itu korban DW bersama beberapa temannya melintas, oleh pelaku korban dipepet lalu dihadang. Saat korban berhenti, pelaku turun merampas handphone milik DW. Sementara teman-teman pelaku juga beraksi dengan mengancam korban dan teman-temannya menggunakan senjata tajam berupa belati. Karena takut, korban lalu menyerahkan handphone merk OPPO Neo 7 warna hitam miliknya. Setelah itu pelaku kabur, "tutur Kasat Reskrim.
    Namun korban DW tidak tinggal diam. Ia yang merasa sebagai korban pembegalan lalu mengejar pelaku bersama teman-temannya dengan meminta bantuan petugas kepolisian. Endingnya, pelaku NS berhasil dikejar hingga berhasil diamankan di kawasan Kelurahan Mayangan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
     Sayangnya saat penangkapan, dari 3 pelaku, Dua diantaranya masing-masing HS, dan FR berhasil kabur. Saat ini mereka sedang dalam pengejaran petugas Satreskrim.
     "Kami akan kejar, untuk identitas sudah kami kantongi, "ujar Kasat Reskrim.
     Sementara itu lanjut Kasat Reskrim. Saat beraksi, para begal masih bocah ini mengendarai sepeda motor Yamaha Vixion, warna putih kombinasi merah dan kuning dengan velg variasi warna orange tanpa plat nomor.
    Kini lanjut Kasat Reskrim, kendaraan yang dibawa juga sudah diamankan berserta barang bukti lain.
     Kasus ini kini dalam penanganan Polres Pasuruan Kota. Si pelaku yang masih bocah juga sudah ditahan untuk selanjutnya diproses secara hukum. (Lis)

Tandatangan SPJ Tertulis 5 Bulan, Insentif Honorer K2 Hanya Cair 4 Bulan, Yang Satu Bulan Kemana?

Para Honorer saat tanda tangan pencairan

 Pasuruan, Pojok Kiri
     Kebijakan Bupati Pasuruan dengan memberikan Insentif kepada guru non Aparat Sipil Negara (ASN) baik yang masuk Honorer Kategori 2 (K2) mapun sukarelawan (Sukwan) murni memang sangat membahagiakan. Namun saat jelang lebaran ini ada tanda tanya besar di kalangan para honorer K2 dan Sukwan murni. Sebab mereka yang sudah tanda tangan pencairan dalam surat pertanggungjawaban tertera 5 bulan, ternyata uang yang diterima di rekening masing-masing terhitung hanya 4 bulan.
    Insentif itu sendiri merupakan suatu bentuk dorongan finansial kepada karyawan sebagai balas jasa.
     Untuk diketahui, para honorer K2 di Kabupaten Pasuruan pada 2019 ini mendapatkan insentif dari Bupati yang disalurkan melalui Dinas Pendidikan dengan besaran untuk tenaga adminitrasi sebesar Rp. 750 ribu perbulan, dan untuk guru Rp. 1 juta. Sementara untuk Sukwan bervariasi tergantung masa pengabdiannya.
     Untuk penerimaan insentif ini waktunya tidak sama, kadang 3 bulan sekali dengan sitim rapel, kadang 4 bulan, dan jelang lebaran ini terhitung cair 5 bulan.
     Tanggal 20 Mei lalu, para honorer K2 membubuhkan tandatangan pencairan untuk SPJ di kantor Dinas Pendidikan tercatat 5 bulan. Sedang para Sukwan tanda tangan dimulai tanggal 21 hingga 29 Mei. Untuk pencairannya, semua sama yakni tanggal 29 Mei 2019.
     Namun ada kekagetan dan tanda tanya dari para penerima insentif ini. Dalam pencairan yang langsung masuk rekening pada 29 Mei sekitar pukul 16. 30 WIB, uang yang masuk hanya terhitung 4 bulan.
    "Padahal kami tanda tangan 5 bulan, ini yang jadi pertanyaan, yang 1 bulan kemana, "ungkap salah satu honorer tanpa mau disebut nama.
    Pojok Kiri yang berusaha mengkonfirmasi hal ini ke Kadispendik, Iswahyudi melalui nomor phonselnya, Sabtu (01/06) sekira pukul 13. 00 WIB dan Minggu (09/06) belum direspon. Saat ditelp, ada nada masuk tapi tidak diangkat. (Lis)

Ikuti Himbauan Kapolres, Polsek Nongkojajar Sudah Open Penitipan Kendaraan Gratis

Sejumlah motor yang sudah dititipkan di Polsek Nongkojajar

Pasuruan, Pojok Kiri
     Polres Pasuruan yang membuka halamannya untuk dijadikan penitipan kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 diikuti oleh Polsek jajaran.
     Salah satu Polsek yang sudah dipercaya warga untuk menitipkan kendaraannya adalah Polsek Nongkojajar.
     Kepada Pojok Kiri, Sabtu (01/06), Kapolsek Nongkojajar, AKP Sukiyanto mengatakan, saat ini sudah ada 13 kendaraan roda dua berupa motor milik warga yang dititipkan karena ditinggal mudik.
     "Sesuai himbauan Kapolres, kepada Polsek jajaran untuk membuka diri membantu warga dengan mempersilahkan bagi yang ingin menitipkan kendaraannya. Kami sejak tanggal 30 Mei sudah open, sekarang sudah ada 13 motor yang dititipkan. Jangka penitipan ini kami beri waktu hingga 16 Juni, "kata AKP Sukiyanto.
     Sementara untuk syarat bagi warga yang mau nitip kendaraan menurut AKP Sukiyanto hanya cukup menunjukkan STNK dari kendaraan tersebut.
     Selain motor, AKP Sukiyanto juga mempersilahkan warga yang ingin menitipkan kendaraan roda 4. Semuanya lanjut AKP Sukiyanto, akan diberlakukan sama, yakni dijaga dengan aman serta gratis.
    "Saat ini masih motor yang dititipkan, jika ada yang mau titip mobil kami persilahkan. Intinya kami membantu mengamankan kendaraan yang ditinggal saat mudik, "ucap AKP Sukiyanto. (Lis)
PERISTIWA
HUKUM
KRIMINAL
POLITIK

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas